And This is How the Story Goes

“Karena apa yang telah dipersatukan Allah,

tidak boleh diceraikan manusia.”

11 September 2004.

Sore itu langit cerah, berpadu semilir angin yang mengusap dedaunan. Perempuan berparas lembut itu begitu gelisah. Dadanya bergemuruh seiring waktu yang terus berjalan. Kerudung putih berenda yang menutupi kepalanya berayun lembut tersapu bayu. Keringat tipis diam-diam merayapi punggungnya yang setengah terbuka. Tangannya tak henti meremas ujung buket bunga yang menjuntai indah. Matanya tak lepas dari sosok tinggi tegap yang berdiri menatapnya lekat.

“Saya, Adi Kristianto, mengambil engkau Bety Sulistyorini sebagai istri saya yang sah dan satu-satunya. Di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya, saya berjanji akan mengasihi dan menyayangi engkau dengan segenap hati. Saya akan mengasihimu selamanya, hingga maut memisahkan.”

Janji pernikahan yang sakral menggema dalam ruangan gereja yang tak seberapa besar. Mata perempuan itu berkaca-kaca, menahan isak yang hendak meluncur sedari tadi.

Setelah menghela napas perlahan, janji suci itu pun berbalas, “Saya, Bety Sulistyorini, menerima engkau, Adi Kristianto sebagai suami saya yang sah dan satu-satunya. Di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya, saya berjanji akan mengasihi dan menyayangi engkau dengan segenap hati. Saya akan mengasihimu selamanya, hingga maut memisahkan.”

And … that’s how the story began.

bety kristianto

 

Menikah dan membangun keluarga bahagia adalah impian (hampir) setiap orang. Kenapa saya tulis “hampir”? Karena di dunia ini ada beberapa orang yang memiliki panggilan hidup tertentu yang memberinya pilihan untuk tetap melajang seumur hidup. Seperti Paus, Romo, ataupun biarawati.

Meski terlihat full of joy, nyatanya pilihan untuk menikah itu nggak selamanya enak. Impian untuk mengayuh biduk rumah tangga yang fine-fine aja, no drama, conflictless, dan happy terus itu hanya ada di dongeng. Ups, bahkan dongeng pun punya konflik ding ya?

Well maksud saya, menikah itu punya konsekuensi yang nggak ringan. Setuju ya Moms? Pasangan suami istri nggak hanya harus mandiri secara finansial, mereka juga harus siap mengayomi anak-anak yang akan meneruskan keturuan nantinya. Mengayomi means providing all things for the kids. Mulai dari kebutuhan dasar hingga kelak mereka dewasa. Dan ini nggak mudah. Menyatukan dua kepala menjadi 1 visi dan misi itu butuh tons of willingness. Tons of love and sincerity.

*Waduh Simbok ngomongnya rada beurat euy!*.

Jadi gini Moms, bulan ini tepat 14 tahun usia pernikahan saya. Nggak! Nggak usah kirim bunga Moms. Kirim doa dan transferan aja biar saya makin hepi ya, hahaha.

You know, ngelewatin 14 tahun bersama pasangan itu nggak mudah loh. Apalagi dua watak yang berbeda, karakter yang berbeda, plus masalah hidup yang sepertinya adaaa aja. Saya yang koleris sanguinis, ketemu sama orang plegmatis melankolis. So, bisa dibayangin kaan, gimana hebohnya pertemuan dua kutub berbeda ituh?

Di awal-awal pernikahan, sih kami masih jaim-jaim gitu. Sama-sama nggak mau menyakiti perasaan pasangannya. Padahal dalam hati sering kaget, jetlag dan ah.. ya gitu deh. Seorang yang nggak bisa mencet odol dari ujung, harus menelukkan hati dan menerima kenyataan suaminya yang selalu merapihkan meja dan lemari sebegitu mempesona. Di lain pihak, mungkin paksu stres jugak liat bininya demen banget ngobrak abrik laci hanya untuk mencari karet rambut atau jepit kesayangan yang entah di mana terakhir kali menyimpannya. Tegang? Nggak juga ah, Cuma kesel aja wkwkkwwk.

Hebatnya, Tuhan itu ciptakan manusia dengan begitu luar biasa. Tau nggak, Moms, manusia itu adalah salah satu makhluk yang paling pintar beradaptasi? Hal ini berlaku juga untuk urusan hidup berumah tangga. Pernah dengar dong, pasangan yang telah lama menikah, katanya wajahnya makin mirip? Well, untuk urusan karakter pun, ternyata bisa juga loh dikompromikan.

Buktinya, entah karena akhirnya lelah atau memang doi berubah, paksu sekarang lebih santai menghadapi kelakuan saya. Dulu, dia paling kesel liat meja berantakan, barang-barang yang nggak kembali ke tempatnya lagi, atau planning bepergian yang tiba-tiba berubah di detik terahkhir. Sekarang, si mantan lebih nyantai melihat rumah yang cukup dekoratif hehe. Sebaliknya, saya yang sering berantakan nyusul jadwal, kini agak lebih lurus jalannya. Sedikit banyak, saya belajar dan menyesuaikan diri dengan bapake anak-anak yang lebih terplanning kalau mau pergi atau melakukan sesuatu.

So, what I’m trying to say is that, everybody changes! Empat belas tahun mengarungi bahtera rumah tangga, nyatanya kami berdua bisa menjadi pribadi “baru” yang sedikit berbeda dari kami sebelumnya. Meski demikian, selalu ada warna klasik yang kami bawa sebagai karakter dasar manusia. Dan inilah 4 hal yang saya pelajari dari kehidupan rumah tangga kami.

bety kristianto

1. Tidak apa-apa berbeda

 

Menikah itu pada dasarnya menyatukan dua kepala, dua hati, dua karakter yang berbeda. Nah, karena memang berbeda, jangan pernah memiliki niat untuk menjadikannya sama, ya. Sudah jelas beda, seberapa kuat pun kita mengubahnya, ya nggak akan pernah identik. Justru dengan perbedaan itu, kehidupan rumah tangga kita makin berwarna. Nggak lucu dong, kalau suami istri sama-sama pendiam, introvert, nggak suka bercanda atau justru demen marah, temperamental, perfeksionis, dan nyablak?

Menjadi suami istri itu artinya mau untuk saling menerima perbedaan dan saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Saya, contohnya, suka ngomong nyablak dan apa adanya. Sedangkan suami lebih pendiam dan pemikir. Awalnya, saya suka sakit hati, nangis sendiri saat suami (saya pikir) nggak mau mendengarkan keluh kesah saya. Saat saya ingin curhat, doi malah asik nonton bola. Huhuhu…

Ternyata, hal ini berkaitan dengan “otak pria dan wanita” yang memang berbeda. Saya suka menyebutnya dengan istilah “wafer dan bakmi” seperti buku yang pernah saya baca. Intinya laki-laki dan perempuan itu memiliki pola pikir yang berbeda, bahkan secara anatomis, otak kita juga berbeda. Nanti akan saya tulis dalam artikel berbeda ya tentang teori yang satu ini. Semakin lama kita berhubungan dengan seseorang, kita akan semakin bisa menerima perbedaan yang ada.

2. Berkompromi itu bukan berarti “kalah”

 

Sudah menjadi watak dasar manusia bahwa kita nggak suka kalah. Dalam hal apapun. Namun, dalam kehidupan suami istri, kompromi ini justru dibutuhkan agar pilar rumah tangga tetap kokoh. Trus, kita harus berkompromi dalam hal apa? Dalam banyak hal pastinya. Mulai dari tatacata meletakkan barang, kebiasaan mandi, makan, tidur, termasuk cara berpikir dan bertindak serta mengambil keputusan.

Namun, berkompromi di sini menurut saya nggak berarti kita harus selalu menuruti keinginan pasangan loh. Tapi lebih kepada bagaimana kita mau dan mampu bekerja sama dengan pasangan demi mewujudkan tujuan bersama.

3. Mengasihi berarti melayani

 

Saat mengucap janji suci perkawinan, saya dan suami berjanji untuk mengasihi satu sama lain. Mengasihi di sini bukan hanya mencintai kelebihan pasangan, namun justru bagaimana kami mau untuk saling melayani dengan cinta, bukan sekadar kewajiban yang membebani. Melayani lahir dan bathin, artinya siap menjadi penolong saat salah satu pihak membutuhkan. Tanpa adanya kasih yang tulus, sia-sia saja janji itu diucapkan.

4. Keluarga selalu yang utama

 

Sering kali, ada banyak hal yang harus diprioritaskan dalam hidup. Karier, jabatan, strata sosial, dan banyak lagi yang kita pertaruhkan. Namun, dalam hidup berumah tangga, keluarga selalu menjadi yang utama. Karier, jabatan, pekerjaan, bisa hilang kapan saja. Tapi suami atau istri dan anak-anak yang mengasihi, nggak akan tergantikan oleh apapun.

Kapanpun kita lelah, ingin rehat, atau sekadar diam saja doing nothing, rumah selalu menjadi tempat terindah yang paling kita rindukan. Minimal itulah yang saya rasakan. Tamparan keras di tempat kerja, dikhianati teman, dicibir atasan, dimanfaatin orang, pernah saya rasakan. Dan saya bersyukur punya suami dan anak-anak yang menguatkan. Di saat saya terpuruk dan hampir menyerah, merekalah sumber kekuatan yang membuat saya bertahan, lalu bangkit dan mengukir mimpi yang baru.

Ah, kenapa air mata saya meleleh ya sekarang? Udah ah, curhatnya, besok lagi hehe. Makasih yah sudah berkunjung. Semoga tulisan ini menginspirasi kalian semua. Ambillah pelajaran yang baik dari kisah kehidupan kami, dan buanglah hal-hal buruk yang tak ingin kami simpan.

Jalani hidup dengan penuh ucapan syukur dan jangan lupa bahagia ya!

28 thoughts on “And This is How the Story Goes

  1. Dian Restu Agustina says:

    Happy Anniversary Mbak Bety..Wish the best for you two and your family! Bahagia sebumi sesurga yaaaa:)

    Suka dengan ulasan tentang esensi pernikahan ini. Terutama, berkompromi bukan berarti kalah. Karena dengan kompromi maka kemungkinan terjadi perselisihan yang ditimbulkan karena adanya perbedaan bisa diminimalkan.:)

  2. Simbok aku ikutan terharu baca kisah kasihmu mbak. Bukan karena tanggal 11 September hari ulang taunku, tapi yang ditulis pakai hati akan nyampe ke hati. Btw, selamat 14 taun pernikahan ya mbak. Tulisan seperti ini menyegarkan pasangan muda macam aku, untuk terus berusaha berkompromi. Dan setuju, rumah tempat terindah kembali. Jangan lupa bersyukur, love it 🙂

  3. happy anniversary mbaaaak.
    Aaah, terharu membayangkan prosesi pernikahannya.
    padahal kalo dipikir-pikir kalimat itu terdengar cuma beberapa detik, yah.
    tapi sukses bikin tengkuk merinding.
    God bless you, mbak.
    Semoga langgeng sampai maut memisahkan.
    Aaaamin.

  4. Wah, sudah 14 tahun berjuang nih, Mbak Betty. Met ulang tahun pernikahan ya, Mbak. Langgeng selalu, live happily everafter pokoknya ya 🙂 Empat hal di atas iyess banget. Jadi penyegar dan penyemangat saya yg tgl 27 November besok akan memasuki gerbang ke-13 tahun bersama suami 🙂

Leave a Reply