Perangi StuntingSebagai salah satu negara dengan tingkat populasi tertinggi di dunia, Indonesia memiliki sejumlah masalah kesehatan. Laporan gizi global tahun 2014 mengungkapkan, Indonesia masuk dalam top 20 negara dengan 3 permasalahan gizi utama yakni stunting (pendek), wasting (kurus) dan overweight (obesitas). Ibu hamil, menyusui dan anak-anak menjadi kelompok paling berisiko. Padahal, mereka inilah yang memegang peran penting bagi kelangsungan hidup negara di masa depan.

Tahukah Mommies, masa golden ages anak sejatinya tidak dimulai sejak dia lahir, tapi jauh sebelum itu. Yakni saat janin mulai bertumbuh dalam rahim. Pada masa ini, janin mengalami pembentukan dan perkembangan otak hingga usianya sekitar 2 tahun. Istilah ini sering disebut sebagai #1000HariPertamaAnanda yang sangat menentukan kehidupannya di masa depan. Selain itu, semua organ tubuhnya akan bersinergi dan mengalami fase tumbuh kembang yang sempurna. Termasuk di dalamnya adalah berkembangnya berbagai organ vital, sistem pencernaan, kemampuan berpikir serta daya tahan tubuh.

Baca juga yuk: Pentingnya Nutrisi untuk Imunitas Anak

langkah tepat perangi stunting

Untuk tumbuh dan berkembang, tubuh memerlukan gizi dan nutrisi seimbang. Kekurangan nutrisi tidak hanya menyebabkan menurunnya kesehatan, tapi juga memicu timbulnya beragam penyakit dan –pada kondisi terburuk– mengakibatkan kematian.

Masalah Kesehatan di Indonesia

langkah tepat perangi stunting

Masalah utama pada ibu hamil di Indonesia adalah kekurangan gizi dan anemia. Data SDT 2014 menunjukkan hanya 14% ibu hamil yang tingkat kecukupan energinya memenuhi standard. Kondisi ini rentan menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah yang pada gilirannya mengakibatkan anak-anak ini berisiko terpapar penyakit serius di kemudian hari. Misalnya defisiensi vitamin, stunting, malnutrisi dan pertumbuhan tulang yang kurang baik.

Sejumlah 37,1% ibu hamil di Indonesia juga mengalami anemia. Kondisi ini bisa memicu terjadinya kelahiran prematur, penyakit infeksi, hingga kematian ibu dan anak. Karena itu, ibu hamil disarankan untuk mengonsumsi minimal 90 tablet tambah darah.

Dokter kandungan biasanya juga meresepkan asam folat untuk mengurangi risiko bayi lahir cacat atau mengalami spifina bifida (kelainan pada tulang belakang). Oleh sebab itu, penting bagi ibu hamil untuk mengunjungi dokter kandungan atau bidan.

Masalah Tumbuh Kembang Anak Hingga Usia 2 Tahun

Marasmus

Adalah bentuk gangguan nutrisi yang disebabkan kekurangan protein dan kalori. Kondisi ini ditandai dengan berkurangnya berat badan, dehidrasi dan diare kronis.

Kwashiorkor

Merupakan komplikasi dari marasmus yang umum terjadi pada usia anak-anak dan menyebabkan masalah pertumbuhan, terutama stunting. Pada tahap yang parah dikenal dengan busung lapar.

Stunting

Adalah kondisi malnutrisi kronis yang disebabkan karena asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama. Umumnya karena pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Kondisi ini terjadi mulai sejak dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Di tahun 2013, ada 37.2% anak Indonesia mengalami stunting.

Yuk Perangi Stunting dan Ciptakan Generasi Cerdas Indonesia

Sebagai perempuan Indonesia, kita bisa berperan serta dalam mencegah dan mengurangi masalah kesehatan pada anak. Hal ini bisa dilakukan dengan cara sederhana sejak dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Dan ingat, seribu hari pertama ananda adalah hari-hari terbaik yang harus diisi dengan asupan nutrisi dan stimulasi yang tepat.

Seperti yang saya lakukan dulu. Sejak merencanakan kehamilan, saya jadi lebih rajin melakukan gaya hidup sehat. Misalnya lebih banyak mengonsumsi sayur dan buah, mengurangi junkfood, minuman berkafein dan bersoda, serta mengelola stres dengan tepat. Hal ini bertujuan agar saya siap lahir batin menjadi ibu. Waktu hamil anak pertama, saya memang masih menjadi ibu bekerja yang rentan dengan tekanan pekerjaan dan deadline.

Beruntung, pengalaman dua kali hamil saya tidak mengalami morning sickness berlebih. Bahkan, saya termasuk doyan makan dan tidur. Beberapa ibu hamil bisa saja mengalami gangguan makan karena perubahan hormon.

Padahal, ibu hamil dan menyusui membutuhkan nutrisi dan gizi yang seimbang untuk mencukupi kebutuhannya dan sang anak. Karena itu, kita harus perangi stunting dan hal itu bisa kita mulai dari rumah. Salah satunya adalah dengan mengusahakan pola makan seimbang dengan memperhatikan 4 hal berikut ini:

1. Protein

Protein diperlukan untuk pertumbuhan serta perbaikan sel. Sumber: protein hewani seperti susu, ikan, daging, telur dan juga protein nabati seperti kacang-kacangan dan serealia. Protein hewani juga mengandung vitamin B12 yang mencegah kerusakan otak.

2. Karbohidrat

Karbohidrat sebagai sumber tenaga bisa dikonsumsi dalam bentuk serat, gula dan pati. Misalnya nasi, jagung, gandum, sereal, sayur mayur serta buah-buahan dalam bentuk segar ataupun kering.

3. Lemak

4. Vitamin dan mineral

Vitamin terpenting yang wajib ada adalah Vit. A, B,C, D, E, dan K. Selain itu juga dibutuhkan makanan sumber asam folat, zat besi, kalsium, magnesium dan beragam mineral penting lainnya. Beberapa sumber vitamin dan mineral adalah susu, sayuran hijau, buah-buahan dan tofu.

Selain empat hal di atas, selama hamil dan menyusui saya juga menghindari beberapa jenis makanan seperti bakso, mi instan, gorengan, dan pemakaian MSG. Saya sangat bersyukur kedua anak saya lahir dan bertumbuh sehat sampai sekarang.

Gizi Anak, Salah Satu Senjata Ampuh Perangi Stunting

Cara terbaik untuk mengatasi masalah kesehatan anak harus dimulai pada masa #1000HariTerbaik mereka. Artinya pada masa kehamilan, menyusui dan pertumbuhan hingga usia 2 tahun, asupan makanan yang tepat dan seimbang adalah keharusan.

ASI

Makanan terbaik bagi bayi hingga usia 6 bulan ini mengandung antibodi, antibakteri, antialergi, dan mencegah bayi terkena asma dan gastroentritis. Selain itu juga membangun bonding yang kuat pada ibu dan anak. Kevin mendapatkan ASI saya secara penuh hingga usia 2 tahun lebih.

MPASI

Sejak usia 6 bulan, bayi membutuhkan makanan pendamping untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya. Di sini, ibu harus aktif dan cerdas memilih makanan yang tepat. Saya pribadi lebih memilih membuat sendiri MPASI untuk anak-anak. Meski sedikit repot, tapi kandungan gizi dan manfaatnya jauh lebih tinggi ketimbang makanan olahan.

Contoh menu MPASI

• Usia 6-9 bulan
Menu wajib adalah bubur saring (halus) dan sari buah. Biasanya, saya mencampurkan sedikit ASI

langkah tepat perangi stunting

• Usia 9-12 bulan
Di usia ini anak-anak mulai diperkenalkan pada sumber protein seperti telur dan ikan yang dimasak dengan cara dikukus atau direbus sebagai pendamping nasi tim atau bubur. 

langkah tepat perangi stunting Beragam sumber protein yang mulai dikenalkan

• Usia 12-24 bulan

Saya mulai mengenalkan makanan yang lebih beragam seperti aneka sayuran kukus (finger food), biskuit khusus bayi, dan buah-buahan yang dipotong kecil-kecil. Anak juga mulai dikenalkan pada beberapa jenis lemak baik, seperti unsalted-butter atau EVOO.

langkah tepat perangi stunting Finger food

Bacaan terkait : Tips Agar Anak Mau Makan

Sedikit tips dalam memilih sayur dan buah untuk anak usia 6-24 bulan adalah pilih yang mudah dimasak, tidak banyak getah, dan mudah dicerna. Contohnya bayam, brokoli, wortel, tomat, lobak, labu kuning, pepaya, pisang, apel, semangka dan melon. Semakin besar usia anak, pilihannya makin beragam. Sebisa mungkin, hindari makanan olahan seperti sosis, nugget, french fries, dan aneka kudapan yang miskin nutrisi.

Dengan membentuk pola makan anak secara tepat, kita sedang perangi stunting dan menyiapkan generasi Indonesia yang unggul, cerdas dan siap bertarung dalam dunia global. Semangat!

 

 

 

Referensi

*www.hellosehat.com

*www.idtheasianparent.com

*www.depkes.go.id

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diadakan oleh GNFI dan Keminfo dan menjadi salah satu artikel terpilih. 

 

 

 

Sumber gambar :

*pixabay.com

*koleksi pribadi penulis

Infografis : penulis

%d bloggers like this: