Ini Alasanku Jadi Penulis -Sebuah Renungan-

Malam itu, saya menyusut air mata yang merembes pelan di atas bantal. Sekali lagi, dan entah untuk kali ke berapa, saya merasa pait hati. Saya lelah. Jiwa raga seperti terkuras.

Saya capek ngurusin orang lain. Saya ingin diurusin, disayangi, diperhatikan. Ingin tidur tenang, bangun pagi tanpa drama dan dikejar aroma bawang merah yang membuat mata saya perih. Saya pingin tampil cantik seperti dulu, pake baju keren, aroma parfum dan semerbak pujian dari sana sini.

Tapi, saya bisa apa?
Di sisi saya ada bayi yang harus diurus. Anak bujang yang beranjak dewasa, dan suami yang harus dilayani. Sementara, umur saya terus berjalan. Hidup nggak nyisain cukup jeda bagi saya untuk berandai-andai.

 

Goodbye, ijazah tersayang!
Sayounara berlembar-lembar piagam penghargaan yang berjasa!

 

Saya kini teronggok di pojok kamar yang dingin dan sepi. Bahkan tak punya orang lain yang bisa dijadikan sekedar teman curhat. Tumpukan baju setrikaan dan cucian bau ompol menjadi gantinya.

And that was my real life, a couple of years ago.

 

****

Kini, semua itu tinggal kenangan. Hidup memang selalu memberi kejutan. Dan sekarang saya bisa menceritakan semua itu dengan enteng, nggak ada beban, bahkan terkadang sambil ketawa. Menertawakan masa lalu yang mengerikan.

Kini, saya bisa tersenyum, menikmati hidup.

Menjadi penulis, adalah pilihan yang saya ambil 3 tahun lalu. Saat mulai bisa berdamai dengan keadaan, saya memutuskan untuk bahagia dan meruntuhkan tembok penghalang yang mengungkung jiwa.

Dan saat itulah saya menemukan kedamaian dengan menulis. Saya bisa menjadi diri saya sendiri, sesuatu yang enggak bisa saya lakukan ketika harus berperan menjadi ibu dan istri.

Karena itulah, saya menjadikan menulis sebagai terapi jiwa. Saya ingin mengukir cerita. Saya ingin meninggalkan arti bagi orang lain. Saya ingin berbagi tentang hidup dan semua pelajaran yang pernah saya temui di kelas yang bernama kehidupan. Bagaimana saya terjatuh dan kemudian bangun lagi mengejar mimpi.

Sudah cukup waktu bagi saya meratap dan bersedih. Saatnya saya terbang sebagai kupu-kupu yang cantik dan mengagumkan.

Dan untuk itulah saya menulis. Supaya pikiran saya bermanfaat bagi orang lain. Hidup saya berarti dan jiwa saya bahagia.

Dari banyak tulisan yang sudah saya goreskan, sering kali saya menuliskan tentang bagaimana saya ingin dikenang oleh dunia. Bagaimana saya mewarnai rumah kehidupan saya dengan banyak cerita dan warna. Dan begitulah saya ingin diingat.

 

Bety dengan warna tulisannya. Bety sang pengukir cerita. Seorang perempuan yang layak diingat dan diceritakan kembali oleh orang lain.

Dalam 3 tahun perjalanan menulis saya, baru 2 buku parenting yang saya tulis. Selain itu ada lebih dari 20 buku antologi beragam genre dan tema, serta ratusan judul artikel yang bertebaran di media online.

Smart Mom, Happy Mom

Dalam buku Smart Mom, Happy Mom saya berbagi pengalaman bagaimana menjadi ibu yang bahagia di tengah banyaknya tugas dan tuntunan. Pengalaman baby blues yang sempat mewarnai episode ibu baru turut serta meramaikan isinya. Sungguh saya bersyukur, bisa berbagi cerita dan semangat positif di sana. Selain sampah dalam jiwa yang turut terbuang, ada banyak testimoni positif dari para pembaca yang makin membuat saya terharu.

 

Great Mom strong Son

 

Di buku parenting kedua berjudul Great Mom, Strong Son saya bersama Jessica Valentina membagikan pengalaman pengasuhan tentang anak lelaki. Bagaimana memahami perbedaan yang ada dan menumbuhkan para pria hebat di masa depan ada semua di sana. Bukan ingin menggurui, kami hanya ingin mencerahkan banyak Mommies yang kebingungan mendidik jagoan kecilnya. Buku ini masih anget from the oven ya. Dan ready di semua toko buku nusantara.

Alasan jadi penulis

 

 

Journey of writing

Baca juga : Unbroken the Wings, Caraku Berbagi Hidup dengan  Sesama

Kini, saya sedang mengukir jalan cerita yang (semoga) bermanfaat bagi banyak orang. Hidup saya memang belum sempurna. Tapi saya berusaha untuk menyempurnakan diri setiap hari dengan banyak bersyukur dan tersenyum. Ikhlas menjalani hidup, meski tak semua yang kita impikan di masa kecil dulu bisa jadi kenyataan.

Mimpi adalah bahan bakar untuk hidup. Tapi kalau tak semua mimpimu jadi nyata, bukan berarti hidupmu berakhir. Tuhan selalu punya kejutan manis di setiap episode hidupmu. Kau hanya perlu menikmatinya dengan caramu.

Ngeblog seru ala ibu-ibu

 

Ngeblog seru ala ibu-ibu

 

Baca juga yuk yang ini : Ini Kisahku Sebagai Narablog di Era Digital

Itulah saya sekarang. Saya yang bercita-cita keliling dunia, kini buah pikiran saya menggantikannya. Tulisan saya melanglang buana hingga ke manca negara, memberi arti pada para pembaca di belahan dunia yang berbeda. Saya nggak mau kecewa lagi. Saya ingin menikmati hidup. Saya ingin dunia mengenang saya sebagai orang yang pantas untuk dikenang dan diceritakan hingga bertahun-tahun kemudian.

Ya, saya Bety. Kepompong jelek yang kini menjadi kupu-kupu indah. And this is my story.

Selamat menikmati dunia yang penuh warna!

29 thoughts on “Ini Alasanku Jadi Penulis -Sebuah Renungan-

  1. dewi apriliana says:

    Pengalaman mbak bet ini josss gandos tenan… memutuskan keluar dari pekerjaan pasti bukan keputusan mudah. Gak kebayang saya kalau berhenti mengajar. Untungnya jadi guru tuntutan pekerjaannya tidak sekeras profesi lainnya.

    Cuma sejak punya baby dan sibuk momong, saya kan mengurangi les – les privat atau mulang di bimbel gitu. Mau sekolah lagi kasian anak-anak. Lama-lama saya jadi agak bosen. Mulang kan kalo materinya samaa terus kadang juga jenuh. Nah, mulai dua bulanan ini saya mulai ajar nulis di blog. Eh ternyata bener..self healing.. saya jadi tidak mudah jenuh. Akibatnya saat mulang dikelas juga lebih bersemangat kembali.

    Semoga makin sukses ya mbak bety baik jadi narablog maupun jadi penulis. Salam dari Wonogiri

  2. steffifauziah says:

    Masyaallah mbok. Aku terharu bacanya. Menjadi ibu rumah tangga emang enggak mudah ya. Tapi itu semua bisa pasti dilewati. Saya pun lagi menikmatinya sekarang. Semoga kita selalu kuat mbok. Aamiin

  3. Dwi says:

    Ya ampuuun … teman seperjuanganku di SNJM duluuu, kalian kereeen sudah pada berkibar.

    Dengan menulis aku pun merasa banyak hal positif yang didapat, mulai dari kestabilan emosi, pertemanan, hingga rupiah dan pengalaman.

    Kereeeenn, Simboook…

  4. hani says:

    Iyayah…kalau kita berdamai dengan keadaan. Eh…tak terduga, kemudahan datang menghampiri. Semangat menulis Mbok. Semoga semakin banyak buku-buku yang terbit, dan blognya makin cetar membahana…

  5. Damar Aisyah says:

    Kupu-kupu memang hanya bermetamorfosa secara sempurna setelah melalui fase kepompong jelek itu. Itu pun bukan karena “dibantu” tapi ia harus mampu menyelesaikannya sendiri. Melalu fase jelek kemudian diam. Baru setelah itu kupu-kupu bisa terbang dengan sempurna.

    Kuakui masa-masa peralihan seperti yang dialami Mbak Bety itu berat dan menguras energi juga pikiran. Bersyukur masa seperti itu justru menjadi bahan bakar buatmu, Mbak. Akhirnya Mbak Bety malah melesat.

    Njenengan itu so inspiratif dan lompatannya luar biasa cepat. Tetap semangat dan teruslah terbang dengan warna-warni “sayapmu”

  6. Dhika Suhada says:

    Simbooook. Dikau selalu menginspirasi dan memukau😍 teruslah menjadi kupu kupu cantik yang menebar keindahan. Sukses selalu. Semoga kita segera bisa bersua ya. Pengen banget belajar dari mbak Bety.

  7. Megha Rachma says:

    Keren simbok. Tetap menginspirasi yah mbok. Buat aku mah si mbok menginspirasi, tulisannya bagus dan berfaedah. Emang bener jalan Tuhan kita gak pernah bisa nebak tapi apapun jalanNYA pasti selalu jadi indah. No more drama again yah mbok. Sekarang tinggal menjalani dan menikmati takdirnya. Sukses selalu

  8. Sunarti kacaribu says:

    Sudah tidak diragujan lagi… Simbok memang penulis berbakat. Saya salah satu penikmat tulisan simbok. Banyak ilmu yang bisa saya serap disana. Makasih ya mbak, sudah menginspirasi saya.

  9. bundadzakiyyah85 says:

    Keren mbak, antara pengen mewek tapi seneng banget melihat teman yg punya minat sama dengan saya tapi lebih sukses dari saya. Jejakmu menjadikan pelajaran yang sangat layak untuk dijadikan semangat mbak. Terima kasih karena terus menginspirasi. Semangaat

  10. anggraeni septi says:

    Bangganya aku bisa mengenal mbak Bety, membaca buku solo pertamanya. Menikmati setiap tulisannya di blog. Baru2 ini aku juga membaca tulisan mba Bety di buku Ngeblog Seru ala Ibu Ibu IIDN. Saya terinspirasi dari setiap tulisan simbok yang renyah. Luar biasa ternyata Tuhan ngatur semuanya. Ketika ijazah dari kampus keren disimpan dilemari, hari ini buku mbok yang keliling kota, bahkan negara ya. Semoga bahagia selalu ya mba Bety. 🙂

  11. Erny says:

    Wawww aja sebenarnya komenku buat mewakili semua ketertegunanku pada mb Bety. Sudah bejibun dapat juara lha memang tulisane cakep kayak orangnya. Wis lah pokoke suippp…😍😍😍

  12. Nanik Kristiyaningsih says:

    Kepompong jelek yang jadi kupu2 paling cantik di jagad literasi.
    Selalu suka dengn gaya menulis Mb Betty.
    Pribadi yang cerdas, ramah dan suka berbagi.
    Sukses terus ya mbakkuh.
    Selalu bangga padamu mbak. 😘

  13. Bunda Erysha (yenisovia.com) says:

    Suatu hari nanti, aku pasti merasakan yg mba Bety rasakan ya. Mentertawakan masa lalu pada saat masa2 sulit kita dan kini bisa tersenyum dengan mantap. Aku sekarang masih masa lelah juga, karena punya anak kcil dan suami yg hrus dilayani. Rasanya tanpa jede Mba Bety. Tapi aku bener2 bersyukur bgt punya suami yg selalu nguatin aku. Skrg jg dengan perlahan aku merombah benteng kenegatifan di dalam diriku dan sejak menulis aku temukan diriku yang baru yg lbh semangat dan merasa berarti. Doain aku ya 😘

Hello, thank you for stopping by. I'm Bety, the one and only author of this blog. Find your most interesting story of mine and let's share!