Museum Kereta Api Ambarawa, Alternatif Wisata Kece untuk Anak-anak

Mueseum Kereta Api Ambarawa

“Adek mau lihat kereta tua nggak?” tanyaku pada si bungsu.

“Mau mau mau!!” jawab Kevin tanpa berlama-lama. Dia emang suka banget sama karakter Thomas and Friends di film animasi itu. Well, meski sebenernya masih kalah populer ketimbang Upin Ipin dan Tobot di mata dia sih hehe. Tapi tiap kali kita bilang mau liat kereta, dia langsung antusias dan bilang mau lihat Thomas.

“Ok, kalo gitu besok kapan-kapan kita lihat kereta tua ya.”

“Itu mbahnya Thomas ya Mih?’’ tanyanya dengan polos yang langsung saya jawab dengan anggukan dan cengiran tipis. Kevin…. Kevin.. bisaaa aee kamu tuh.

Dan hari Senin kemarin, saya melunasi hutang sama si bontot itu. Kebetulan hari Minggunya pak swamik lagi ada kerjaan di Solo. Yawdah daripada nyunyun, kami pun ikut deh segerombolan. Niatnya, nginep dulu di Solo, muter-muter kulineran dan keliling kotanya Pakde Jokowi baru deh besoknya ke Ambarawa. Kan deket tuh sekarang. Tinggal masuk tol dan cus, sampe. Cihui pokoknya. Udah berasa orang Jekardah aja gituh naik tol hahaha. *Norak.*

Berangkat dari Solo sekitar pukul 9.30 WIB, kami mengarah ke pintu tol menuju ke Salatiga. Sempet kesel karena beberapa kali mau ngisi e-money gagal terus, nyari ATM juga nggak nemu. Akhirnya kami nemu juga deh minimarket berjejaring yang bisa top-up in e-money kami. Soalnya kalau nggak pake itu kan gak bisa masyuk tol yes. Mosok kami harus balik ke tengah kota lagi sih?

Mungkin kalian juga mau mampir sini : 
Rekomendasi Itinerary Jogja 5D4N

Beres top up e-money, si hitam langsung dipacu masuk tol yang (masih) bersih ini. Percaya enggak, ini adalah kali pertama kami masuk jalan tol lintas Jawa yang baru ini loh hahaha. Pengennya lanjut sampe Surabaya tapi urung. Soalnya inget niat awal ngajakin bocil ke museum kereta. Oke, mungkin next trip kami harus jadiin deh planning ke Surabaya dan Malang itu.

Entah karena masih baru atau apa, jalan tol Solo-Semarang ini emang bersih dan rasanya nyaman banget melintasinya. Speedometer sempat menyentuh angka 120km/jam saking sepinya. Sekitar satu jam berkendara, kami mendekati area exit tol Ambarawa. Jam tangan menunjukkan pukul 10.30 saat kami masuk ke jalan raya biasa. Biaya tol dari Solo-Ambarawa ini 61.500. Cukup terjangkau lah ya.

 

Mueseum Kereta Api Ambarawa

 

Keluar dari exit tol, kami mengarah ke tengah kota. Kontur jalan yang kami lewati naik turun dan beberapa kali berkelok. Thanks God, semuanya mulus jadi nggak khawatir mobil guncang-guncang. Sepanjang jalan, ada banyak pepohonan hijau. Sampai di suatu titik, saya melihat Rawapening di kejauhan. Tadinya sih pengen mampir juga ke sana, tapi kayaknya kok kurang menarik ya buat anak-anak? So, akhirnya kami nggak jadi deh ke sana. Maybe next time. Oya, di area ini juga ada tempat wisata ngehits yang lagi digandrungi para traveler, yakni Eling Bening. Tadinya kami pengen ke sana juga sih, tapi pas baca-baca riviu di sana-sini kayaknya tempat ini kurang cocok buat turis (((turis))) yang bawa anak kicik. Yowes, cancel aja daripada nyusahin diri sendiri.

Mengikuti instruksi Mbah Gugel, sekitar 15 menit kemudian kami pun sampailah di Museum Kereta Api Ambarawa. Meski itu adalah hari kerja, ternyata ada banyak wisatawan yang berkunjung. Mungkin karena anak sekolah masih libur kali ya, jadi banyak orang tua yang menyempatkan diri mengajak buah hati jalan-jalan. Ya kayak kami ini.

 

Mueseum Kereta Api Ambarawa

Baca juga yang ini :
7 Hal Asyik di Floating Lembang Bandung

Mengenal Museum Kereta Api Ambarawa

Saya lansir dari Wikipedia, museum ini awalnya ada stasiun KA kelas I yang kemudian dialihfungsikan menjadi museum KA pertama di Indonesia. Museum yang secara administratif ada di desa Panjang, Ambarawa ini memiliki banyak koleksi kereta yang pernah berjaya pada jamannya loh. Terletak di ketinggian 474 mdpl, daerah tempat museum ini berada, hawanya cukup sejuk meski nggak bisa dibilang dingin. Museum ini dikelola oleh Unit Pelestarian dan Desain Arsitektur PT KAI yang bekerja sama dengan pemprov Jateng.

Sebelum dialihfungsikan sebagai museum, stasiun yang juga dikenal sebagai Stasiun Wilem I ini sempat dipakai secara aktif mengingat adanya jalur kereta Semarang-Tangoeng yang kemudian dilanjutkan dengan pembangunan jalur KA Semarang-Solo-Yogyakarta dan jalur semarang-Kedungjati-Ambarawa tahun 1873.

Namun, penutupan jalur KA Jogja-Magelang-Secang di tahun 1975 membuat jalur kereta yang melewati Ambarawa terkena imbasnya. Apalagi sejak terkena erupsi lahar dingin Merapi tahun 1972, PJKA menutup jalur ini secara permanen.

Dulu, KA uap merajai dunia perkereta-apian. Namun sejak tahun 70-an, mereka mulai tergantikan. Hiks, kasian Thomas ya manteman *lebai* Banyak di antara kereta-kereta tua itu yang akhirnya terbengkalai, dipindahtangankan dan cuma jadi barang rongsokan.

Karena prihatin dengan kondisi ini, tahun 1976 dibangunlah museum KA ini di Ambarawa yang diresmikan tanggal 21 April 1976. sejak itu, diadakalah angkutan wisata KA uap yang melayani rute Ambarawa-Tuntang-Ambarawa dan Ambarawa-Bedono-Ambarawa.

Nah, sampe sekarang juga masih ada KA wisata ini. Tadinya kami mau naik juga tapi sayang tiketnya sudah habis. Oh oh, Kevin pun manyun dengan sukses hehe.

 

 

 

Harga Tiket Masuk

Oya Moms, untuk menikmati koleksi KA yang ada dalam museum ini, kita harus membeli tiket masuk seharga 10.000 rupiah untuk dewasa. Sementara anak-anak setengahnya. Di sini, satu orang hanya boleh membeli maksimal 4 tiket. Setelah melakukan pembayaran (cash only ya) kita akan menerima tiket yang di atasnya dikasih barcode. Masing-masing pengunjung harus memegang sendiri tiketnya (kecuali anak kecil). Awalnya saya pikir kenapa juga harus bawa sendiri-sendiri, kan biasanya juga boleh diwakilin sama 1 orang. Eh ternyata pas di pintu masuk itu nggak ada petugas, cuma ada seorang satpam doang yang ngawasin pengunjung yang akan masuk museum. Dan setiap orang harus men-scan tiket yang dipegangnya sebagai validitas.

 

Mueseum Kereta Api Ambarawa

 

Interior Museum

Bangunan utama museum adalah bangunan berkanopi dengan atap menjulang tinggi, khas bangunan Eropa gituh. Buat para instagramable dan banci kamera kayak saya, pasti bakalan hepi banget dengan gedung-gedung tua yang ikonik banget ini.

Selain karena hawanya emang mayan sejuk, bangunan tua dengan desain seperti ini bikin suasana cukup adem meski kita harus berjalan lumayan jauh. Ya, sejak memasuki area museum, kita diarahkan untuk terus jalan di lorong yang memutar dari ujung ke ujung. Di sisi kanan lorong ini ada dinding yang dipasangi banyak lukisan dan gambar yang menjelaskan sejarah dan beragam info terkait dengan museum dan koleksi KA yang ada di sini. Kalau temen-temen suka dengan hal beginian (((beginian))) tentunya bakalan hepi banget ya. Tapi saya mah enggak hahahaha. Lanjouut!

Di bagian kiri, ada koleksi KA tua yang berjejer memanjang, siap menyambut pengunjung yang pengen berswafoto. Berdasarkan penelusuran saya, KA tertua yang ada di museum ini dibuat tahun 1902 loh. Meski awalnya agak ngeri juga ngelihat KA jaman old ini, lama-lama asik juga sih.

 

Mueseum Kereta Api Ambarawa
Di belakang saya ini gerbong perpustakaan

 

Di salah satu sudut, ada KA yang difungsikan sebagai perpustakaan. Nah ini menarik deh, selain bisa popotoan sama KA, anak-anak juga bisa membaca banyak referensi soal kereta.

Nggak banyak yang bisa kita lakukan di sini, kecuali berfoto. Mau makan, nggak ada yang jualan. Dan kayaknya emang nggak boleh makan di area museum ya. Soalnya bisa bikin kotor, meski tempat sampah juga tersebar di beberapa penjuru. Tapi saya hampir nggak melihat pengunjung yang makan di sini. So, buat klean yang pengen ngabotram di sini, mendingan batalin aja yes. Di sini nggak kayak di bonbin yang bisa dipake ajang ngariung trus makan siang.

Untungnya ada banyak spot foto yang bisa kita pakai berselfie. Tapi yang paling ikonik ya berpose alay di tengah-tengah seperti ini. Dengan latar belakang bangunan utama museum, foto kita bakalan megaaang banget di medsos, ya nggak?

Mueseum Kereta Api Ambarawa

 

Kalau enggak, foto nyempil di tengah ikon “I LOVE AMBARAWA” ini juga kece.

Mueseum Kereta Api Ambarawa

 

Atau genit-genitan di antara bodi KA tua yang klasik dan gagah seperti ini.

Mueseum Kereta Api Ambarawa

Ada beberapa sudut yang belum sempet saya sambangi soalnya Kevin keburu rewel karena ngantuk dan capek. Lagian dia emang lagi kena flu jadi yaa… gitu deh. Simbok harus ngalah hehehe.

 

 

Tips plesiran di Museum KA Ambarawa

  1. Bawa pelindung diri

Saya kalo pergi ke mana-mana, apalagi yang outdoor area, selalu bawa pelindung diri. Minimal topi atau payung deh, jadi enggak gosong pas sampe rumah. Meski cukup sejuk, matahari siang tetap mencrang sinarnya dan pasti akan bikin kulit perih. Karena itu mendingan pakai lotion atau sunblock kalau pengen tetep fresh.

 

Mueseum Kereta Api Ambarawa

 

  1. Siapin minum yang cukup

Jalan dan popotoan di sini cukup menguras energi, dan bikin kita keringetan. So, bawa air putih yang cukup is a must. Apalagi kalau bawa krucil kayak saya. Meski ada mamang-mamang yang jualan di luar pagar, kayaknya akan lebih higienis kalau bawa sendiri ya Moms.

 

Mueseum Kereta Api Ambarawa

 

  1. Jangan nyampah

Walau sepertinya nggak akan makan di dalam area museum, tapi sebaiknya kita tetep inget untuk buang sampah pada tempatnya ya. Misalnya bungkus permen atau botol air mineral dan rokok. Ada banyak tempat sampah kok di dalam area museum ini. Sayang kan, kalau nantinya jadi kotor gegara pengunjung wisatawan yang enggak bertanggung jawab.

 

 

  1. Ambil foto sebanyak mungkin

Jangan sampe nyesel kalo nggak ambil foto banyak pas liburan. So,saran saya sebaiknya charge gadget kita sampe penuh sebelum pergi. Trus gunakan secara bergantian dan hematlah. Meski kita harus ambil banyak foto untuk cadangan, jangan menghamburkannya juga buat motoin hal-hal yang enggak penting yang cuman akan ngabisin stok baterai kita.

Kalau udah foto, jangan lupa untuk menyimpannya di file folder  yang aman dan segera pindahkan begitu sampai rumah ya. Jangan kayak saya yang suka kehilangan foto pas mau diaplot. Hiks, itu kayak sakitnya ditinggal pacar pas lagi sayang-sayangnya loh. Huaaa… *lebai lagi*

Puas berfoto, kami cuss ke destinasi berikutnya. Ke mana ya kira-kira? Pokoknya pantengin aja ya blog keren dan kece ini wkwkwk. #promo

Buat kalian yang mau ke sini, bisa lihat detail lokasinya di bawah ini. Pastikan kalian ke sininya di antara jam 08.00-17.00 ya.


Bye Mommies kesayangan!

 

 

 

8 thoughts on “Museum Kereta Api Ambarawa, Alternatif Wisata Kece untuk Anak-anak

  1. dewi apriliana says:

    Senengnyaa yang lagi liburan. Gendhuk saya juga suka suka suka. hehe.. keretanya klasik banget trus stasiunnya ala jaman dulu romantis gitu. Serasa masuk ke filmya Thomas and his friends tuut tuuuut.
    eh, apa ndak naik kereta uapnya mba’? jalane sih timik timik ndak cepet tapi pemandangannya super ! Apalagi pas mendekati tuntang. Demi ketel uap! Bagus banget

    • betykristianto says:

      Tikete abis mbake … hhihih itu yang bikin nak kicik saya manyun hiks… pedahal udah ngarep banget meh numpak

  2. Dwi Arumantikawati says:

    Issshh kereeeen udah jadi aja postingan ini. Aku yg di Sarangan aja bahkan belum ngedraft, huhuu…. Btw kita melewati tol yg sama Solo-Semarang. Duuh kalo liburanku di jawa kemarin lamaan lagi mau deh ke sana.

  3. Nurul Fitri Fatkhani says:

    Saya pernah mampir ke Museum Kereta Api Ambarawa sekitar 8 tahun yang lalu. Setelahnya tempat itu ditutup. Mau ada pemugaran katanya. Ternyata beneer, lihat dari foto-fotonya, sudah banyak yang berubah.
    Asyik ya, bisa lihat kereta api zaman baheula

  4. Yeni Sovia says:

    Wah seru banget Mba bety jalan-jalan keluarganya. Harga tiketnya murah lagi. Aduh Erysha pasti seneng kalau dibawa ke sana soalnya dia suka juga ama kereta. Tapi sayang jauh dri tenpat tinggal

Hello, thank you for stopping by. I'm Bety, the one and only author of this blog. Find your most interesting story of mine and let's share!