REVIEW JUJUR : Kelana oleh Sekutu Kopi Solo

Kelana Kopi Solo

Malam yang berangin dan cukup dingin menyapa kami. Beruntung, saya sempat membawakan jaket dan pakaian hangat lain untuk anak-anak, meski yang mau pakai cuma si adek. Kalau enggak, malam itu sepertinya kami akan menggigil di tengah kota Solo yang lumayan ramai.

Selepas tidur sore -yang pules banget- saya dan Kevin cukup segar menyambut jalan-jalan malam kali ini. Si kakak yang enggak mau rehat, meski sebenernya capek juga, tampak masih antusias pengen mengeksplor kotanya Pakde Jokowi ini. Ada sebuah tempat makan yang pengen kami sambangi. Lokasinya nggak jauh-jauh dari Sahid Hotel, tempat kami menginap. Kafe ini nggak sengaja saya “temukan” saat browsing di IG. Namanya Kedai Mbok Ben. Sayang, semangat 45 yang mengawal kami harus nggembos seiring kekecewaan yang kami dapatkan karena sesampainya di venue, ternyata kafe ini TUTUP. Huhuhu… *penonton kecewa berat*

Entah kenapa, beberapa kali ke Solo, kami selalu kurang beruntung dalam hal kuliner. Pas terakhir ke sini tempo hari, kami cuma berputar-putar kota Solo dan akhirnya berujung di warung ayam goreng penyetan milik seorang artis ibukotah itu. Kali ini, pas udah lebih prepare, venue yang kami tuju malah tutup. What a life sodarah!

Mampir sini juga ya : 
De Tjolomadu, Wisata Edukatif untuk Keluarga

But it’s oke. Life must go on kan? Dengan sigap saya nyari-nyari lagi deh venue yang pas untuk keluarga dan pastinya instagramable. Tara!! dalam hitungan menit saya menemukan sebuah warung kopi yang tampaknya lagi ngehits. Setelah memastikan ada menu yang kids friendly, fix deh kami meluncur ke bilangan Stadion Manahan, tempat kafe ini berada.

Kelana by Sekutu Kopi berada di Jalan menteri Supeno no. 11, Kecamatan Banjarsari, Solo atau tepatnya di depan stadion Manahan. Kafe yang buka mulai pukul 09.00 pagi ini terlihat cukup mentereng di tengah bangunan lainnya. Dari penelusuran yang saya dapatkan waktu browsing tadi, kafe ini baru buka awal tahun 2019. No wonder kalo kondisinya masih cukup terawat.

Di bagian depan terdapat garden area yang cukup luas. Di sini ada rerumputan yang hijau dan terlihat apik. Jejeran bangku tampak rapih di satu sisi yang dinaungi atap. Sedang di seberangnya, beberapa bangku dan meja ditempatkan di outdoor area. Ada juga sebuah ayunan kecil yang bisa dipakai pengunjung untuk sekedar berfoto atau ngobrol cantik. Oya, di bagian ini ada banyak lampu estetis yang digantung di pepohonan dan beberapa spot khusus yang memang sengaja ditaruh untuk membuat kafe ini terlihat sophisticated. Liat saja foto sayaah, ciamik kan? *halaah lebai*

Setelah menanyakan apakah ada spot lesehan, kami diantar oleh waiter yang ramah menuju ke bagian belakang kafe. Melewati meja barista yang terlihat mewah, kami berempat beriringan mengikuti si mas berbaju kotak-kotak tadi.

Kelana Kopi Solo
Meja barista

 

Tak berapa lama, kami sampai di back yard yang ternyata cukup eyecatching loh. Nggak nyangka kalau di belakang ada pemandangan seperti itu. Jadi, di sana ada halaman yang cukup luas dan ditanami rerumputan hijau yang asri. Trus di atasnya digelar beberapa tikar berukuran sedang, yang lalu ditumpuki meja kayu dan bantal malas yang bisa diduduki atau dipakai untuk tiduran. Area ini outdoor. Di atas ada lampu-lampu cantik yang bikin suasana makin indah. Alunan musik yang enak banget di telinga makin bikin pengunjung PW alias mager dan pengen berlama-lama di sini.

Kelana Kopi Solo
Backyard yang apik

 

Di meja samping kami, ada beberapa mahasiswa yang tampaknya lagi ngerjain tugas. Ntah apalah tugas mereka itu. Yang jelas, mereka membawa kamera dan laptop. Hm, enak ya jadi mahasiswa jaman now. Ngerjain tugas aja di kafe. Lha saya dulu apa kabar? Paling pol ngerjain tugas dan bikin paper ya di rentalan. Hahaha.. dasar mahasiswa kere.

Well, balik lagi ke review ya.

Malam itu, kami memesan menu makan malam yang (kami pikir) cukup berat, mengingat siangnya kami cuma makan yamie ayam. Apalagi si kakak yang abis renang udah lapar berat. Pas lihat-lihat di menu book, ternyata menu makan di sini cukup banyak.  Ada  menu western seperti spaghetti, pasta, beef  stroganoff, dori sambal matah, beef blackpepper, salted egg chicken, salad kebun, nasi goreng, mie rempah nusantara, dan lain-lain. Buat kami sepertinya menu nasi  goreng tetap jadi andalan. Wokei deh kalau  gitu. Fix lah, nasgor ini jadi menu andalan sejuta umat.

Kelana Kopi Solo
Plattered gorengan yang tersisa separuh

 

Kakak dan si adek memilih nasi goreng kelana ayam. Sedangkan papi nasi goreng pete. Hihihi… untuk menu pendamping, kami pesan plattered gorengan ala Kelana. Isinya bakwan mini, tahu kotak dan mendoan. Minumannya cukup teh panas saja, karena sore tadi sebelum berangkat kebetulan kami sudah ngopi duluan. Sebenernya di sini ada bermacam varian kopi yang tampaknya nikmat. Hal ini bisa terlihat dari meja barista yang tampilannya menggoda di depan tadi.

 

Kelana Kopi Solo
Jejeran kopi siap dihaluskan dan diseduh

 

Terkadang, kita membeli sesuatu itu bukan karena “bendanya” tapi karena hal lain yang melekat padanya. Ini juga tampaknya berlaku di Kelana Kopi. menurut saya, di sini tuh kita beli “tempat dan suasana”. Itu yang bikin dia jadi a little bit pricey.

 

Tentang rasa, honestly nasi goreng di sini nggak terlalu istimewa. Untuk menu seharga 40 ribuan lebih, rasa makanan yang disajikan nggak cukup spektakuler. Bukan berarti nggak enak ya, tapi ya gitu deh. Saya masih lebih milih nasi gorengnya Solaria yang melimpah dengan topping seafood dan ayam baksonya itu. Apalagi harganya mirip-mirip.

Untuk nasi goreng pesanan Kevin, malah saya harus re-order karena awalnya udah mesen nasgor non-lada. Eh pas dateng ternyata ladanya sak-hohah dan bikin Kevin mewek. Akhirnya saya komplen lah ke waiternya yang tadi dan mereka mengganti menu yang sama tapi tanpa lada.

 

Kelana Kopi Solo
Nasi goreng kelana ayam

 

Sementara, piring kakak dan papi udah tandas licin. Gorengan yang datang pun habis kami santap. Semilir angin malam kota Solo sukses membuat perut kami keroncongan. And you know, porsi gorengan seharga 22 ribu ini cukup mini di tengah piring saji menyerupai cobek ini. Sambal yang disajikan agak unik menurut saya, semacam sambel pecel tapi nggak pedas. Rasa manisnya lebih dominan ketimbang taste yang lain. Gorengan yang disajikan dengan sambal pecel ini bikin saya inget jaman masih di Bandung. Makan cilok pakai bumbu kacang.

 

Kelana Kopi Solo
Teh hangat dalam teko

 

Teh panas yang kami pesan disajikan dalam teko putih yang cantik dipadu dengan cangkir mini yang nggak kalah manis. Penyajian ini cukup menguntungkan karena teh yang kita minum akan tetap terjaga kehangatannya di tengah malam yang dingin.

Sebenernya porsi makanan yang kami habiskan malam ini masih kurang nendang di perut kakak dan papi. Kalau saya sih udah kenyang banget. Padahal, saya cuma makan sepiring berdua sama Kevin hihihi.

Selesai menyantap hidangan malam, kami sengaja berlama-lama dulu. Selain karena suasananya yang enakeun, sayang juga sih bayar mahal-mahal trus pulang. Kyaaaa… dasar emak nggak mau rugi.

Kelana Kopi Solo

Barangkali kalian juga suka ini : Pengalaman Staycation di The Alana Hotel and Convention Centre Solo

Beberapa pasangan dan muda-mudi tampak masih betah juga di kafe ini. Kebanyakan sih yang datang ke sini waktu itu anak muda, usia kuliahan dan pekerja kantoran gitu deh. Ada juga sih keluarga muda kayak kami (((keluarga muda))). Rasanya saya nggak liat ada pengunjung seumuran bapak saya yang mampir sini. Nggak tahu juga kalau di lain hari ya.

Over all, makan di sini cukup berkesan bagi kami sekeluarga. Terutama soal suasananya yang asyik dan pastinya pas buat popotoan. Kalau dari segi rasa, masih so-so dengan yang lain deh. Dari skala 1-10, saya kasih rating 6. Dari segi suasana dan hospitality, saya kasih nilai 8. What about re-visiting? Hm.. kayaknya saya akan mempertimbangkan tempat lain dulu deh kalau masih ada pilihan next time. 🙂 etapi kecuali kalian emang mau ke sininya cuman nongki-nongki, ngopi-ngopi cantik sambil berswafoto .. ya bolehlah ke sini lagi.

Puas makan dan nongkrong, kami balik ke hotel untuk istirahat. Besok pagi masih ada agenda jalan-jalan ke Ambarawa. Nonton koleksi Thomas the train yang eksotik itu.

Buat kalian yang pengen nyobain sensasi makan di Kelana, langsung aja datang ke Kelana Kopi by Sekutu Kopi ya. Atau kalo mau kepoin medsosnya bisa tengok di IG-nya @mariberkelana.id.

 

See you on my next review!

 

18 thoughts on “REVIEW JUJUR : Kelana oleh Sekutu Kopi Solo

  1. Wiwid Vidiannarti says:

    Iya bener, simbok. Di tempatku juga ada tempat makan yang mungkin lebih bisa dibilang beli suasana aja karena makanannya standard masakan rumah banget rasanya 😀
    Tapi ya rame mulu karena suasananya asyik banget buat ngobrol-ngobrol santai bareng keluarga

  2. anggraeni septi says:

    Mba bety, tempatnya asik ya. Emang cocok buat santei. Kalo aku yang ngerjain skripsi disitu pasti tak tinggal turu wkwk. Aduh adek, makan nasgor jadi kepedesan, untung masih mau lanjut makan yak hehe. Foto2nya kece ah. Seneng liat keluarga muda ini berbahagia di kafe (keluarga muda) 😀

  3. hani says:

    Si Mbok…hehe…ada Review Jujur. Mosok ada review engga jujur. Suasana lumayan, tapi makanannya kurang ya? Sayang ya…

    Btw…Mb Bety, imagenya keluar layar banget. Apakah kebesaran sizenya? Jadi kalau dr HP, imagenya 1/2.

    • betykristianto says:

      Iya bun, untuk rasa so-so aja. Btw gambarnya udah kubikin sedemikian rupa loh, liat di hp anakku kok ok2 aja ya hehehe

  4. Nanik says:

    Kebetulan agustus, bulan depan ada acara mantenan di Solo.
    Semoga pak suami mau antaerin ke sini.
    Intinya depan stadion Manahan, kan ya mbak?

  5. Damar Aisyah says:

    Wih, menunya ntap bener. Gorengan sama wedang anget, nikmat banget jadi temen ngobrol sampek lupa perut udah kayak hamil 4 bulan, wkwkwkkwk. Ngomongin soal perut, itu perutnya Mbak Bety di kemanain? Tuipis banget, Rek!

  6. Erny Kusuma says:

    Iya sih mb saya setuju. Kadang orang ke suatu tempat kuliner bukan krn menunya oke, tp krn suasana yang nyaman dan tenang. Apalgi klu kita bs ber-WIFI ria buat kjr DL. Hehe…Kalau di Kopi Kelana mnsukung kan mb?

  7. hani says:

    Jadi, suasana 8, rasa 6 ya? Eh…tapi bikin betah tuh duduk di backyard. Bisa nunduk weee ngeliatin gadget.
    Kayak adikku aja…di mana pun, nasi goreng deh pesennya. Wkwkwk…

Hello, thank you for stopping by. I'm Bety, the one and only author of this blog. Find your most interesting story of mine and let's share!