Sudahkah Kita Merdeka?

“Jangan milih dia. Nggak aman hidupmu nanti!”
“Kamu nggak cocok jadi pengacara, mendingan jadi psikolog.”
“Kerja dari rumah? Bisa apa kamu nanti?”
“Nggak pernah keluar negeri? Hah, ngenes amat hidup lo!”

 

 

***

 

“Hidup-hidup gue, kenapa jadi orang lain yang resek ya?”
“Orang lain??? Heloooo! Itu emak gue yang ngomong!”

 

 

***

Waitt,

***

 

Pernah dengar kalimat-kalimat di atas? Pernah sakit hati atau terpuruk karena itu semua?

Saya yakin (hampir) semua orang pernah punya pengalaman yang serupa dengan gambaran saya di atas. Saat masih kecil sih rasanya pasti senang ketika orangtua memberikan arahan dan petunjuk untuk kita melakukan sesuatu. Hal itu merupakan tanda kasih sayang dan bimbingan mereka agar kita bisa berjalan pada rel kehidupan yang benar. Tapi, akan lain ceritanya kalau hal itu terjadi terus hingga kita dewasa.

Menjadi dewasa sepenuhnya berarti kita berhak menentukan jalan hidup dan mengambil tindakan tertentu secara sadar dan independent. Yes, independent alias merdeka. Nggak disetir sama orang lain.

 

Masih dalam euforia kemerdekaan Indonesia tercinta, yuk coba kita jujur sama diri sendiri. Jawab pertanyaan ini ya: sudahkah kita benar-benar merdeka?

*Duh, pertanyaannya beurrats bangeuud yes?*

 

Wokei, kita akan kupas lebih dalam tentang hal ini. Pertama, apa sih arti merdeka itu sendiri?

Menurut KBBI, merdeka diartikan sebagai

  • Bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri.
  • Tidak terkena atau lepas dari tuntutan
  • Tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu.

Sedangkan wikipedia menuliskan “kemerdekaan” sebagai kondisi di mana seseorang mendapatkan kendali penuh atas dirinya sendiri, tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain lagi.

 

So, dari kedua definisi di atas, sudah jelas banget kalau yang namanya merdeka artinya kita memegang hak penuh atas diri sendiri. Mau ngapain aja, suka-suka gue lah. Tapi tentu saja hal ini juga membawa konsekuensi lain. Apalagi kalau bukan kewajiban yang menyertainya

Yah, meskipun kita merdeka, bebas menentukan pilihan, bebas bertindak, bebas berpendapat, tapu tetap saja ada batas-batas tertentu yang harus kita patuhi. Yang paling penting sih nggak boleh merugikan orang lain, ya.

Nah, balik lagi ke cerita saya di atas tentang bisa nggak sih kita ini benar-benar merdeka? Sebuah pertanyaan sederhana tapi agak sulit menjawabnya. Bener apa bener?

Sebagai makhluk sosial, kita tentu nggak bisa hidup tanpa orang lain di sekitar. Dan itu artinya kita perlu yang namanya kontak sosial, berinteraksi dengan manusia lain demi mencapai tujuan hidup bersama. Nah, di sini kita membutuhkan yang namanya toleransi, saling menjaga dan nggak menyakiti satu sama lain. Tapi…. ya itu dia seringnya faktor ego manusianya muncul lagi dan lagi.

Jaman now ini, ada buanyak banget tekanan, kendala dan hambatan yang kita hadapi dalam hidup bersosial. Nggak cuma masalah pertengkaran dengan tetangga, saling lempar gosip panas #ups enggak banget deh#, atau ribut rebutan mainan.

Tekanan yang paling besar itu ya dari lingkungan sosial. Lingkaran pertemanan, profesi, sosial, dan yang paling kuat itu tekanan politik #ups. Terlebih kala medsos sudah menjadi “surga” bagi jempolers yang terkadang suaranya lebih sadis dari Afgan.  Beda pendapat, dibully, beda pilihan ketua RT, diolokin, beda warna rambut, dicubit. Duuhh, ini yang paling berat Moms, saya aja nggak kuat. Biar Dilan aja. *dikeplakbakiak*

 

Meski begitu, saya tetap memiliki harapan dan impian akan sebuah “kemerdekaan” versi emak-emak.

 

Bebas menjadi diri sendiri

Banyak orang yang sebenarnya “memenjarakan” dirinya sendiri dalam bayang-bayang orang lain, misalnya tokoh idola, orangtua, atau kekasih hatinya. Padahal, menjadi diri sendiri itu penting loh!

Kita bisa melakukan banyak hal yang kita sukai. Mau nulis buku boleh, jadi penyanyi oke, jadi apapun yang kita cintai, silakan! Jangan biarkan impian kita terbunuh oleh lingkungan meski itu dari lingkaran terdekat kita sekalipun.

Mengejar mimpi dan passion itulah yang membuat hidup kita merdeka. Kita berhak menjadi apa yang kita mau dan impikan. Orang lain boleh memberikan masukan dan bantuan, tapi nggak berhak menyetir kita.

 

 

Bebas menentukan pilihan

Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada pilihan. Mau makan apa, memakai baju model apa, tinggal di mana, bekerja sebagai apa, menikah dengan siapa, dan lain-lain. Milyaran jumlahnya kalau semua kita hitung. Menjadi merdeka adalah saat kita menentukan pilihan dengan leluasa, tanpa tekanan dan rasa takut.

Semua pilihan membawa konsekuensinya masing-masing. karena itulah, saya setuju bahwa pertimbangan dan pemikiran yang matang selalu diperlukan sebelum memutuskan sesuatu. Mau bekerja atau di rumah, bekerja jadi apa, di mana, sekolah jurusan apa, liburan ke mana, ah.. banyak deh pokoknya.

Lalu bagaimana jika tekanan itu datang dari orang terdekat?

Berkomunikasilah dengan baik, bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Nggak ada jalan yang buntu kalau semua pihak mau berdiskusi, bukan? Kalau memang nggak bisa lagi dicari jalan tengah, ya sudah, hadapilah! Kerjakan yang terbaik dan buktikan kalau pilihan kita benar. Fokus mengejar tujuan, dan tutup mata dan telinga dari hal-hal negatif yang menghalangi.

 

 

Bebas mengemukakan pendapat

 

Meski terkesan sepele, berpendapat sejatinya sesuatu yang sangat penting dan asasi. Banyak orang yang memilih diam saat suaranya dibungkam. Padahal, bersuara dan berpendapat itu hak setiap orang. Suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju terhadap sesuatu atau seseorang itu adalah keberagaman yang hakiki. So, merdeka bagi saya adalah saat saya bisa bersuara dengan bebas, tanpa takut diberangus pihak lain. Duh yang bagian ini emang rada berat ya.. Hiks.

 

 

Bebas berkreasi

 

Sebagai pekerja kreatif, saya dituntut untuk selalu aktif, kreatif dan penuh ide. Saya sangat bersyukur menjadi penulis. Profesi ini membolehkan saya bermimpi dan berimajinasi seluas-luasnya. Tak pernah ada ide yang terlalu aneh, terlalu lucu, atau terlalu besar untuk saya impikan. Saya bisa menuliskan banyak hal yang bahkan nggak bisa saya temui di kehidupan nyata. Dan saya bisa mengekspresikan perasaan, pikiran, serta gagasan luar biasa yang memenuhi otak saya. Kenapa? Karena saya bebas. Merdeka.

Bagaimana dengan teman-teman yang kebetulan bukan berprofesi seperti saya? Carilah peluang. Jadilah peka. Pergunakan setiap moment untuk mengasah ide. Nggak semua rutinitas kerjaan menjadi tekanan yang melelahkan. Semua itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Justru, tekanan deadline bisa memantik kreatifitas yang kadang nggak kebayang sebelumnya loh.

 

Ihh, ternyata membahas kemerdekaan itu nggak ada habisnya ya, Moms. Dan sekali lagi, kemerdekaan yang dimiliki setiap orang pastinya akan “terbentur” dengan kemerdekaan orang lain. Di sinilah kita harus bisa fleksibel dan legowo dalam mengatur segala sesuatunya agar hidup kita lebih bermakna. Bukankah sejatinya memiliki hubungan yang baik dan indah dengan sesama adalah salah satu tujuan penting dalam hidup setiap manusia?

So, jangan terlalu pusing dengan segala macam standard kemerdekaan yang ada di sekitar kita. Sebab sejatinya, merdeka atau tidak itu kita sendiri yang tentukan. Bagi orang lain, menjadi ibu sepenuh waktu itu mungkin nggak merdeka. Karena kita terbelenggu dengan segala tetek bengek urusan rumah. Nggak bisa pergi ke mana-mana, nggak bisa menikmati hidup. Tapi bagi sebagian lain, tinggal di rumah justru memberinya kebebasan melakukan banyak hal yang dia sukai. Dia bebas dari tekanan bos di kantor, nggak usah pusing mikirin meeting, nggak perlu repot memakai setelan dan high heels yang menyakitkan, dan nggak pusing nombokin selisih uang di kasir.

See, masing-masing orang memiliki parameternya sendiri untuk menentukan kemerdekaannya. Just enjoy our life, raih kemerdekaan versi kita sendiri tanpa perlu terlalu sibuk memikirkan pilihan oran lain. Yang penting, tetap berikan yang terbaik bagi diri sendiri, lingkungan, dan tentu saja bagi negara tercinta ini.

 

By the way, HAPPY JOYFUL BIRTHDAY INDONESIA!!!

Tetaplah menjadi bangsa terhebat dan terkuat yang pernah kami miliki.

 

Punya cerita seputar kemerdekaan versi Mommies? Yuk sharing di kolom komentar..

 

 

 

 

 

15 thoughts on “Sudahkah Kita Merdeka?

  1. Aku paling ga suka kalo terlalu diatur-atur. Sekalipun yg dimaksudkan baik. Tp aku suka kalau menerima masukan. Meskipun memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan, tp ada baiknya tidak menuruti hati semata. Krn second opinion itu diperlukan juga untuk mendapatkan keputusan yg terbaik.

    • betykristianto says:

      Setuju mba. Intinya semua kemerdekaan pribadi itu akan berhadapan dengan kebebasan orang lain juga ya. Tentunya akan sangat baik kalau kita juga bisa mengambil keputusan yang terbaik dengan mempertimbangkan kepentingan dan masukan orang lain juga 😊

  2. Merdeka ituuuu bebas nulis apa aja, asal nggak menyinggung orang lain. Merdeka itu, bebas ikut lomba blog yang mana aja terus menang, terus hadiahnya buat ke salon, terus bangun-bangun ternyata udah DL padahal tulisan baru dapat draftnya aja. Hikz … jadi, belum merdeka nih daku?

  3. Ya pernah juga dikomenin Mamah yg bikin ngenes. Mungkin maksudnya baik. Sekarang sih ada yg ngatur² gitu saya menghindar deh.
    Soalnya sayanya juga males argumen…
    Padahal mustinya bebas aja ya. Engga suka ya bilang engga suka. Masih imbas didikan jadul kayaknya niiiih. Belum bebas berekspresi…

  4. Dian Restu Agustina says:

    Raih kemerdekaan versi kita sendiri tanpa perlu terlalu sibuk memikirkan pilihan oran lain. Yoyoayo..kita raih merdeka#eh

    Pokoknya setujuu, kalau masih diatur bukan merdeka namanya. Hidup kita yang jalani dan kita pula yang akan memepertanggungjawabkannya :0

  5. Nana says:

    Merdeka itu.. saatnya kita bebas, bisa melakukan hal apa saja, bisa menulis berjam2, baca buku berjam2, hair spa sekalian facial.. wah pasti lama tuh ..hehe.. tapi pastinya harus bebas bertanggungjawab ya.. harus juga memikirkan kepentingan orang lain.

  6. Ih pernah banget mbaaaaa, gemes wkwk. Saya udah lama resign dari kerjaan kantor dan fix mulai cari penghasilan dari laptop aja sebagai freelancer. Duh yg ngomongin ini itu banyak. Tapi yaudahlah tutup kuping aja dan terus berkarya biar gak puyeng wkwk.

  7. Laff banget. Di zaman kemerdekaan ini emang kita masih sering terintimidasi. Parahnya kadang2 kita sendiri yang mengintimidasi atau membuat batasan untuk diri sendiri. bener banget, Mbok. Maka bebaskan, yang penting tidak mengganggu kebebasan orang lain.

  8. Ya ampun, gagal fokus lihat gambarnya. Luthuuuuuuuu 😁😁 Merdeka menurut saya ya: bebas. Bebas ngomong, bebas mau komplain, bebas mengemukakan pendapat, bebas dari sakit hati, bebas dari Masa lalu, eaaa. Diterusin jadi curcol laahh 😅😁😁😁

  9. Aku setuju deh, banget sama tulisan kamu..
    Kalo kaya begitu sebenarnya aku udh merasa merdeka juga sih ,tp kok gak nyadar ya hahahaha… Efek kurang sukur.. but terasa diingatkan lagi. Tulisannya menarik saya suka..

Leave a Reply