Semua ada Waktunya

Sekitar tahun 2010 (saya agak lupa sih tepatnya), di kota Bandung sedang dikerjakan perbaikan jalan Sukarno Hatta. Jalan ini adalah salah satu jalan lingkar yang mengelilingi kota Bandung dan menghubungkan jalan dalam kota dengan luar kota.
Saya punya cerita tersendiri tentang hal ini. Waktu itu saya masih berstatus anggota P10 alias Persatuan Pegawai Perempuan Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas Pasan hahahahaha…

Setiap hari pukul 6 — yaaa… bisa lebih lebih dikit sih– saya sudah harus melaju menembus udara dingin yang seringkali menusuk tulang. Berhubung jalan yang selalu saya lalui itu adalah satu satunya jalan yang paling cepat mengantarkan saya ke kantor, maka nggak ada pilihan lain selain harus rela nyelip di antara ratusan kendaraan yang berjajar dan semua pengen duluan. Fiuuuusshhhh…

Sepanjang perjalanan saya melihat begitu banyak debu beterbangan, kerikil-kerikil dan bongkahan aspal yang berhamburan di tengah jalan memaksa para pengemudi untuk ekstra berhati hati kalau ngga mau terpeleset atau terjatuh. Alat-alat berat berjejer di pinggir jalan menunggu para pekerja yang akan meneruskan pekerjaannya hari itu. Sungguh bukan pemandangan yang enak dilihat dan dilalui. Apalagi buat kami kami yang dikejar waktu sampai di kantor sebelum bos mencak-mencak gara-gara terlambat ngabsen. Saking lamanya pengerjaan proyek itu, banyak masyarakat yang komplain kepada pemerintah karena merasa dirugikan dan beberapa alasan lainnya. Namun tetap saja nggak banyak perubahan yang bisa dilihat. Dan nggak munafik, saya juga seringkali mengeluh karena harus pergi lebih pagi dan sampai rumah lebih malam gara-gara harus bermacet-macet ria di jalan.

Namun setelah kira-kira setengah tahun, akhirnya proyek perbaikan jalan itupun selesai dan kami bisa merasakan manfaatnya. Jalanan yang dahulu rusak, digantikan dengan aspal yang mulus dan lebar. Kalau sudah begini, nggak banyak tuh yang komplain sama pemerintah : kok jalannya mulus pak…? Hihihi..

Sama seperti kita loh. Percaya ngga..?
Seringkali kita cepet ngeluh kalau ada hal yang menurut kita nggak enak. Ngomel dan manyun gara-gara apa yang di depan mata nggak seperti yang kita harapkan. Sebel kalau planing kita berantakan. Ada yang maunya marah kalau hidup nggak semulus jalan tol. Atau nggak, justru ada sebagian orang yang sedih terlalu lama gara-gara sesuatu. Nggak bisa move on, terlalu baper de el el. Sampai-sampai kerjaan terbengkalai, karena sibuk menyembuhkan luka di hati (cieeee…..kaya abg putus cinta aja….)

Saya pernah juga kok kayak gitu. Yah namanya juga cewek. Seringkali otak yang ada di kepala itu terkalahkan dengan perasaan di dalam hati, jadinya ya itu tadi. Dikit sikit baper, terbawa perasaan, suka jadi sedih ngga jelas dan pengennya nangis ajah. Padahal kalau kita mau berpikir jernih, pasti ada maksud di balik segala sesuatu kan? Nggak mungkin banget kalau sesuatu itu terjadi gitu aja nggak ada maksudnya.

Tapi ngga bisa dipungkiri kalau pas kita ngalamin yang namanya ujian, pasti nggak enak. Anak saya aja kalau pas ulangan suka bete gara-gara saya suruh belajar doble portion dibanding hari-hari lainnya. Yap, semua ujian itu nggak enak! Berjuang itu nggak enak! Percaya deh.

Sama aja kayak jalan yang diobrak-abrik nggak selesai-selesai tadi. Kita ngeluh ini itu, capek, bete, kesel sama si ini si itu. Pengennya tuh semua hal harus mulus bebas hambatan dan menyenangkan. Tapi pas giliran semua ujian bisa kita lewatin, kok jadi lupa ya sama hal-hal nggak ngenakin yang kita alami kemarin ya? Rasanya hepi aja tuh.  Aneh kan? Hehehe….

Itulah manusia, terkadang kita maunya instan. Nggak mau ngelewatin proses. Maunya enaknya ajah. Bagian capeknya kalau bisa di –skip aja deh.. ^_^
Apalagi kalau kita nggak bisa menebak atau mengira-ira maksud dan tujuan yang ada di depan sana. Adeeeuh itu nampol banget deh sebelnya.

Dulu saya suka nangis setiap hari saat kerjaan saya direnggut, saat harga diri saya seolah-olah nggak ada lagi, saat semua yang saya kerjakan kayaknya nggak ada artinya. Saya merasa sedih tak berujung, persis kayak di lagunya Glenn. Seolah-olah menara kebanggaan saya selama ini runtuh tak berbekas. Aduuuuh mak, sakitnya tuuuh di sini, man! (Sambil nunjuk dada hahaha…)

Tapi setelah beberapa tahun berlalu, ternyata saya baru nangkep maksud dari kejadian itu. Ya, memang dulu semuanya nampak berantakan, hampir seperti bedak yang pecah berhamburan dan bikin kita bete tak terkira. Namun di saat yang sama, saya belajar untuk lapang dada, bersyukur, dan nggak sombong. Apa yang saya punya, semua cuma titipan. TUHAN yang punya segalanya. Nggak ada gunanya kita bermegah di atas kekuatan sendiri. Karena saat goncangan itu datang dan  kita nggak siap, so pasti gelombang kekecewaan akan menghantam perahu ego kita dan karam.

Seperti ranting pohon anggur yang harus dipotong jika tak menghasilkan buah, persis seperti itulah hidup kita dibersihkan. Supaya kita bisa berbuah lebat dan dipanen saat masa panen tiba. Sakit memang. Mungkin harus melewati darah dan air mata. Malam-malam panjang yang dipenuhi dengan ratapan dan tangis dalam kebisuan. Kondisi kita mungkin berantakan, seperti aspal jalan yang dibor dengan alat berat, kotor dan berdebu. Dan semua itu membuat kita komplain sama Yang di atas.
Yes, I’ve  been there!

Tapi sekarang saya berdiri di sini dengan penuh syukur. Bersyukur karena pernah ngelewatin ujian kenaikan kelas yang luar biasa waktu itu. Itu semua membuat saya lulus dan duduk di level yang lebih tinggi. Mungkin sekarang saya nggak punya hal-hal yang dulu saya banggakan, tapi ada puluhan alasan lain yang bisa saya tuliskan di sini sebagai gantinya.
Mungkin saya ngga akan punya mobil bagus, nggak akan tinggal di rumah besar, nggak akan mau punya anak lagi, nggak akan terbebas dari hutang dan intimidasi serta pergaulan yang buruk.
Naik kelas setelah melewati ujian yang susah itu rasanya seperti kita abis ke toilet setelah berhari-hari sembelit . Hihihi… perumpaannya lebai dah..!
Tapi seriusan kok….nikmatnya tiada tara.

Soooo….apapun kejadian di depan mata, yuk kita belajar bersyukur. Semua ada waktunya. Semua asa hikmahnya. Selama nafas masih dikandung badan, kita masih punya sejuta kesempatan mengikuti ujian-ujian berikutnya yang pastinya akan membawa kita ke level-level yang lebih tinggi. Saya selalu ingat kalimat ini : kita nggak akan pernah bisa mengambil barang yang lebih bagus di depan sana kalau tangan kita masih menggenggam.

Selamat belajar yah teman, and see u on top!

Salam super simbok dari balik dapur
Mmuuuuaaachh!
:*

Leave a Reply