The Untold Love Story

Aku mematung, memandang wajah beku di hadapanku dalam diam. Masih lekat di benakku, betapa dulu aku begitu memujanya, merindukan suaranya dan mengecap aroma tubuhnya. Hingga kini pun aku masih sangat memujanya.

Clara berdiri tak lebih dari satu meter di depanku, tapi tanganku bahkan tak mampu menjamah ujung bajunya yang berkibar dipermainkan angin bulan Juni yang kering. Entah apa yang ada dalam benaknya, yang pasti aku merasa seperti ditelanjangi oleh tatapannya yang tajam.

Aku memang bukan laki-laki terbaik baginya. Aku hanya seorang pemuda kemarin sore yang tak pernah mengerti bagaimana menyentuh wanita dengan cinta.

 

Aku membuang muka, berusaha menghindari tatapannya barang sedetik. Tapi suaranya menarikku kembali menghadapnya.

โ€œKenapa kamu datang lagi?โ€ ucapnya lirih. Aku mengeluh pelan dalam hati. Kata lagi yang dipilih Clara seakan mempertegas keengganannya bertemu kembali denganku. Tak bisa disalahkan, dia memang berhak membenciku. Seorang pecundang yang seumur hidup tak pernah memiliki keberanian di depannya. Aku memilih pergi saat dirinya membutuhkanku, dan bersembunyi di balik ketegaran palsu untuk mengelabui diriku sendiri. Aku selalu bilang tak pernah mencintainya, padahal setengah mati menyimpan asa padanya. Ya, aku melakukan semua itu, aku menyerah demi kebahagiaan Rando, sahabat terbaikku.

“Kamu masih seperti dulu, tegar dan selalu menawan.” Aku memerhatikan mata bulat Clara sepenuh hati. Rasanya baru kemarin aku meninggalkannya dalam tangis yang menderas di wajah ayu itu. Kini, setelah lima tahun berlalu, aku masih bisa menemukan jejak tangisnya.

“Kamu nggak menjawab pertanyaanku,” protes Clara, “kalau gitu, aku pergi aja,” lanjutnya seraya membalikkan badan dan bersiap meninggalkanku.

“Clara, wait! Aku datang hanya untuk menyapa, sekaligus mengucapkan belasungkawa atas kepergian Rando.” Clara mengibaskan tangan kananku yang berusaha menyentuhnya, kemudian berdiri menghadapku lagi.

“Thanks. Itu aja?”

Aku tercekat. Tak kusangka Clara akan bereaksi sedatar itu. Kupikir dia akan menamparku atau paling tidak memakiku untuk apa yang telah kulakukan di masa lalu. Tapi nyatanya tidak. Perempuan itu memilih untuk diam, seolah apa yang terjadi di antara kami tak pernah berarti.

“Kamu pasti sangat berduka, tapi aku tahu kamu bisa melewati semua ini. Kamu perempuan kuat, sangat kuat.”

“Kamu yang membuatku seperti ini,” sambar Clara. Kurasakan kemarahan dalam ucapan Clara kali ini. Meski raut wajahnya masih sedatar tadi, aku bisa menangkap dengan jelas luka di hatinya. Dan akulah penyebabnya.

“Aku minta maaf….” Kalimatku menggantung di udara. Ribuan kata yang telah kusiapkan sejak tadi nyatanya tak bisa meluncur. Dadaku bergemuruh menahan gelombang emosi yang kusimpan rapat-rapat selama ini. Laki-laki tak boleh cengeng. Itu hukum wajib yang kupegang dengan kuat.

“Untuk apa minta maaf? Maafku nggak akan ngembaliin semuanya, kan?”

“Makilah aku, tampar aku, Clara. Aku berhak menerimanya. Tapi berjanjilah kau akan bahagia. Please….”

“Bahagia? Hah, kau tahu apa arti bahagia?” sinis Clara. Kulihat butiran bening menggenang di sudut-sudut matanya, sementara suaranya bergetar. Aku menelan ludah. Tatapan Clara menusuk jantungku.

“Maafkan aku. Tak seharusnya aku meninggalkanmu waktu itu. Tapi….”

“Sudahlah, Arman!” Clara memotong ucapanku. Kali ini, tatapannya sedingin es. Aku bergidik.

“Jangan kau ungkit lagi masa lalu. Kau sendiri yang bilang kalau kau nggak pernah mencintai aku, bukan? Jadi, nggak perlu kuatir berlebihan sama orang yang nggak kamu cintai. Pergi aja! Bukannya itu yang selalu kamu lakukan selama ini?” lanjutnya tegas.

 

 

Aku tertegun. Clara benar, aku memang tak punya hak untuk mengkhawatirkannya.

Angin masih mempermainkan rambut kami, beberapa helai daun kering jatuh melewati kepalaku, lalu luruh ke tanah. Mata kami masih beradu, seakan ada magnet yang mengikat kami begitu kuat. Tapi jarak yang membentang di antara kami berdua seolah tak terjangkau lagi.

Aku mengangguk. Tak ada lagi yang tersisa di sini. Kulangkahkan kaki menjauhi Clara, satu-satunya perempuan yang kucintai, sekaligus orang yang tak pernah berani kugapai. Sepertinya, aku memang harus menggenggam kebenaran ini sendirian. Kebenaran yang telah membuatku berbohong seumur hidup. Kenyataan bahwa aku sangat mencintainya, biarlah hanya aku dan Tuhan yang tahu. Clara berhak bahagia, meski kini Rando telah tiada.

***

 

Short story ini telah diterbitkan dalam book project bertema “White Lie”bersama Jejak Publisher, dan menjadi salah satu dari 10 tulisan terbaik. Tulisan ink adalah kali pertama saya menulis fiksi mini dengan POV1 laki-laki. Semoga menghibur ya.. (^_^)

22 thoughts on “The Untold Love Story

    • betykristianto says:

      Masa lalunya memang nggak diceritakan mba karena ini flash fiction. Fiksi yang super mini, hanya menyoroti 1 adegan saja. ๐Ÿ˜Š

  1. Ah, makanya saya merasa pernah membaca ini. Ternyata di White Lie, to. Kita sebuku dong, Mbak ^^
    Tapi saya cuma penulis terpilih. Udah saya posting juga sih fikmin nya Oktober kemarin. Pas setahun bukunya.
    Dijadiin novel aja nih fikmin nya ๐Ÿ™‚

  2. Dian Restu Agustina says:

    Armaaaan..ayo katakan.
    Cinta itu butuh keberanian. Ungkapkan saja rasamu. Biar Clara dan seluruh dunia tahu!

    Muliti talenta bener Mbak Bety ini! Ditungu fiksi-fiksi yang lainnya

    • betykristianto says:

      Kebentur tema mba hahaha.. tantangan banget bikin fiksi mini kayak gini. Harus cerita detail tapi jumlah kata dibatasin

      Pengen nembus media kayak dirimu, belum berani ngirim euy wkwkwk

Hello, thank you for stopping by. I'm Bety, the one and only author of this blog. Find your most interested story of mine and let's share!