Nasib jadi ibu tanpa anak perempuan, terkadang bikin saya rada galau. Apa pasal? Beberapa orang sukak banget menyayangkan kenapa saya yang katanya syantik ini nggak dikasih kembaran mini yang lucu dan imut serta menggemaskan. Kan sayang, kesyantikan saya nggak ada yang nerusin. Hahaha.. *ditimpuk bakiak*
Lah, emang kita bisa apa ya Moms? Kan tinggal terima takdir dan menjalaninya toh? Kok ampe segitunya mengasihani saya.
Di rumah, emang saya yang paling cantik. Hal ini otomatis bikin saya jadi belajar banyak tentang dunia laki-laki dan segala printilannya. Lupakan sejenak soal sesi dandan, masak memasak, dan lenggak lenggok di depan cermin. Saya harus berjuang dengan mobil-mobilan, lego, tembak-tembakan dan terkadang harus ikutan koprol di atas kasur.
Dulu, pas anak pertama saya kan masih ngantor. Jadi nggak banyak menghabiskan waktu berjam-jam sama si Sulung selama weekdays. Nah, pas weekend, biasanya kami suka jalan ke playland gitu sama papinya. Kebetulan, si Sulung ini lebih kalem ketimbang adeknya.
Kevin memang jauh lebih aktif. Sehari-hari, dia lebih suka lari-lari sambil narikin mobil-mobilannya yang seabreg itu, lompat-lompatan di atas kasur atau teriak-teriak di depan tivi sambil nonton Upin Ipin, Tobot atau Tayo. Kalau udah gitu, saya suka merem aja. Berharap semua ini hanya mimpi, dan nanti pas melek rumah udah bersih dan rapih kayak istana. Wkwkwk..
Baca juga : Jurus Bahagia Jadi Ibu
Beda halnya sama temen saya yang pada punya anak perempuan, saya kalau kasih nasihat ke anak-anak di rumah harus lebih teliti dan tertata. Bukan karena mereka lemot. Tapi, otak anak laki-laki dan perempuan kan emang beda dari sononya. Kalau Mommies belum tahu, sini gih baca tulisan saya soal pengasuhan anak laki-laki di sini.
Nah, kalau ngomong sama anak lelaki itu harus step by step, beda halnya dengan ngobrol sama anak perempuan. Riset membuktikan kalau perempuan itu lebih cakap di bidang verbal, emosional dan humanis. So, kalau mau bicara dari hati ke hati ama perempuan itu gak sulit kok. Kita ngecuprus tentang apa aja dalam sekali waktu, bisa. Mau kasih nasihat, mau ngerumpi, mau ngajarin basic lifeskill, hayuk aja. No problemo.
Well, meski nggak punya anak cewek, saya tetep harus belajar cara berkomunikasi dengan perempuan. Terlebih lagi, saya mulai ngajarin si Sulung tentang hal ini. Kenapa? Soalnya dia kan udah ABG ni, bentaran lagi bakalan kenal dan tertarik ama lawan jenisnya. Nah, saya harus tanggap dan membekali dia dengan pengetahuan dasar soal kaum ibunya ini.
Table of Contents
Pertama, perempuan adalah makhluk multitasking
Ini adalah kebenaran haqiqie yang nggak bisa kita komplen. Udah dari sononya begitu. Katanya sih, karena otak perempuan memiliki desain khusus yang membuatnya bisa melompat-lompat dari satu belahan otak ke belahan yang lain dan mampu berpikir lebih kompehrensif tentang sesuatu. Anak-anak saya harus paham hal ini. Jadi kalau besok punya istri, bisa ngerti kenapa istrinya gesit banget tapi terkadang suka uring-uringan saat kerjaannya numpuk. Hihihi ini mah tsurhatan mamaknya.
Kedua, perempuan menyukai hal-hal emosional dan humanis
Beberapa penelitian (dari sumber yang pernah saya baca) menemukan fakta bahwa otak kaum perempuan lebih merespons hal-hal yang berhubungan dengan sisi emosional dan humanis. Nah, itu juga kali ya yang bikin kita lebih mengingat peristiwa yang menyentuh sisi emosional dan yang berhubungan dengan manusia. So, si Kakak dan si Adek kelak harus paham bagaimana trik memikat pasangan dengan cara komunikasi yang tepat. Jangan ajak perempuan berpikir tentang hal-hal yang njelimet macem aljabar. Mendingan ajak kita-kita nonton film keluarga atau piknik berdua saja ke tepian danau yang indah. Dijamin, pedekatenya lancar jaya. Eh, inimah (lagi-lagi pengalaman mamaknya :D)
Ketiga, perempuan suka diperlakukan dengan lembut
Masih berkaitan dengan hal-hal emosional, perempuan selalu suka diperlakukan dengan lembut. Karena hati perempuan mudah sekali tersentuh. Tapi, jangan coba-coba memanfaatkan situasi ini, soalnya insting perempuan itu ajib banget. Nggak perlu radar atau alat deteksi kebohongan, sekali kaum pria berpura-pura, kita pasti tahu. Suwer! Eh, kecuali lagi dimabok cintah ding. Terkadang cinta itu buta, jadi bikin insting melipir ke samping. *ih amit-amit*
Keempat, perempuan menyukai kejutan
Entah ini cuma saya aja atau temen-temen juga ngerasain. Saya mah suka dapet kejutan. Nggak usah yang spekta-spekta banget lah, cukup suami pulang bawain amplop tebel isi duwit bonusan aja udah seneeeng banget. Gak perlu harus ngajakin candle light dinner ala-ala sinetron itu. Mendingan makan sate ayam di emperan, tapi dompet tebel sampe akhir bulan. Yekan, Moms?
Kelima, perempuan addicted dengan kata-kata
Nah yang terakhir ini, gak usah ditanya. Perempuan punya stok 20.000 kata sehari untuk dihamburkan diucapkan. Jadi, para pria kecil di rumah saya udah hafal kalau mamaknya ngoceh kayak burung beo. Malahan, mereka semua ketularan virus ngacapruk ini. Kalau udah kumpul, ramenya nggak ketulungan. Cuma si papi aja yang pendiem. Mungkin eneg kali dia liat anak istrinya kayak kaleng rombeng suaranya. Maklum, dia dibesarkan dalam keluarga yang pendiam. Nggak kayak saya yang ngecablak everidei. Ah, kasian juga yak dia nikah ama saya wkwkwk… *kidding!*
Mampir sini juga dong : Cara Komunikasi Efektif Pria dan Wanita
Hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan dalam kegalauan ya Moms, so saya memilih untuk fokus sama kenyataan dibanding terhempas manjah sama nyinyiran kaum sebelah. Even itu orang-orang terdekat, saya mah nggak mau ambil pusing. Biar kata saya ini anggota geng ibu tanpa anak perempuan, saya tetep mau hepi dan enjoy. Masa tua nanti gimana? Ah, itu ada masanya sendiri.
Seperti kata pepatah yang saya yakini ini
“Janganlah engkau khawatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
What about you, Moms?
Betul betul betul mbak. Saya kebalikannya, ga ada anak kecil yang narik mobil seabreg alias ga ada anak cowok, hihihi… Anak cewek dua makin besar skrg makin kerasa kalau yang diobrolin makin banyak, ayahnya akhirnya jadi pendengar setia😆
I have 3 boys..
dan karena minimnya ilmu saya tentang anak laki2 (karena saya dibesarkan sebagai anak tunggal)terjadilah yang namanya sumpeg..stress..depresi..
saya dulunya mikir apa karena saya yang ketinggian sekolah ya?? saya pengennya anak laki2 saya tuh diem..belajar…nurut..anteng…gak mengganggu..gak acak adut rumah..
akhirnya anak2 terus2 an kena marah..hari ini baru kena 1x itupun karena sayanya yang lemes dah kecapekan mau marah..
ur blog inspiring me mbak..salam kenal..saya ibu 33 tahun yang sedang berjuang mengalahkan ego saya demi tumbuh kembang anak..dan saat ini saya masih merasa di titik 1 dari skala 10 sebagai ibu yang baik.
Tak pernah ada supermom, mba. Yang ada adalah mama yang selalu berusaha memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. dan semua itu perlu proses. Proses panjang yang nggak selalu mulus. Tetep semangat ya mba, main-main ke sini kalau mba Suci perlu pencerahan atau sekedar having fun sama tulisan saya. Peluk sayang dari jauh.. 🙂