Desember 2017. Suatu sore di musim hujan yang lembap.

Saya sedang berdiri menatap Merapi yang menjulang tinggi di kejauhan. Aroma tanah basah menyapu penciuman, sementara angin memainkan ujung rambut saya yang kian panjang. Dari balkon lantai dua rumah, saya leluasa menyaksikan salah satu gunung teraktif di dunia itu. Sosoknya seolah menantang angkasa. Tak peduli secerah atau segelap apapun langit di atasnya, Merapi tak pernah lelah menjejakkan kakinya di perut bumi.

Ingatan saya melayang seperti asap yang membubung tinggi. 365 hari bukanlah waktu yang singkat. Saya melewati setahun terakhir dalam banyak kondisi. Syukur kepada Tuhan, kalau saya diberi kekuatan untuk sampai di titik ini.

Hari ini, mungkin teman-teman mengenal saya sebagai salah satu penulis perempuan. Sebuah impian yang tak pernah berani saya tuliskan, bahkan dalam secuil catatan di buku diary. Tapi bukankah Tuhan itu baik? He makes my dream come true, even if I never told Him. 

Berawal dari kegalauan saya, menulis ternyata menjadi obat dan terapi yang efektif bagi jiwa yang lara. Luka batin karena tekanan pekerjaan, shock saat harus kembali menjadi full time mom, hingga gagal berbisnis yang sempat mendera, perlahan sembuh. Percaya diri saya mulai pulih, dan saya berani menghadapi dunia lagi. Bertemu dengan penulis-penulis luar biasa, membuat saya menemukan kembali passion yang terlupa telah lama mati. Dan hampir dua tahun terakhir ini, menulis telah menjadi keseharian saya.

Baca yang ini ya: Tips Menjadi Penulis yang Produktif 

Tahun 2017 menjadi tahun yang sangat produktif. Total, saya telah menerbitkan sebuah buku solo dan 14 buku antologi bersama perempuan-perempuan penulis yang hebat. Syukur dan bangga, rasanya tak bisa berhenti mengalir dalam hati saya. Meski demikian, masih ada banyak hal yang belum sempat saya lakukan di tengah segala keterbatasan.

Sebagian hasil karya kebanggaan saya

 

Bersama teman-teman penulis Cloverline Creative

 

Bersama sebagian tim penulis emakpintar.org

 

Berbicara di depan publik, sebuah pencapaian yang tak pernah saya bayangkan

 

Kini, tahun baru sudah di depan mata. Dalam hitungan hari, semua hal yang ada di tahun ini akan segera berlalu, berganti dengan 365 kisah baru yang unpredictable. Manusia memang tak bisa melihat masa depan. Pun tak ada orang yang ahli meneropong rencana Tuhan. Meski begitu, untuk menyongsong hari baru yang luar biasa, memiliki planning dan resolusi awal tahun adalah hal yang baik untuk dilakukan.

Itulah yang memenuhi benak saya dan menggerakkan jemari saya untuk menuliskannya dalam deretan kata-kata.

 

Resolusi tahun 2018 yang ingin saya capai:

1. Life balance

Pernah merasa hampa? Saya pernah. Berprofesi sebagai ibu sepenuh waktu, nyatanya sering kali menyedot habis waktu dan tenaga saya. Jatah 24 jam sehari dan 365 hari setahun, rasanya tak pernah cukup untuk melakukan segalanya. Benar, saya sibuk mengurus anak-anak dan rumah tangga. Tapi sering kali di waktu-waktu saya sendiri, ada rasa kosong yang tak mampu saya jelaskan dengan kata-kata.

Belakangan, saya sadar kalau hidup saya nggak seimbang. Berat sebelah. Saya terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan nggak punya waktu lupa memenuhi kebutuhan rohani saya. Saya sibuk melayani orang lain, tapi hampir nggak punya waktu untuk diri sendiri.

Karena itulah saya bertekad tahun depan harus menyediakan waktu lebih banyak lagi untuk Tuhan. Seumur hidup, saya belum pernah khatam Alkitab. *Plaaak!!*

Semoga di tahun 2018 ini keingian saya kesampaian: tuntas membaca Alkitab dan merenungkannya dengan baik. Saya ingin menjadi teladan bagi anak-anak saya yang kelak akan menjadi kepala keluarga yang luar biasa. 

 

2. Menerbitkan buku baru

Memiliki sebuah buku solo dan 14 buku antologi, nyatanya tidak membuat saya puas diri dan berhenti. Keinginan untuk berbagi dengan sesama lewat tulisan dan buah pikiran, terus menggelegak dalam hati saya. Berbagai event kepenulisan telah saya ikuti, dan semuanya membuat ketagihan. Fiksi, nonfiksi, semua saya lahap demi memuaskan “rasa lapar” tentang banyak hal.

Saat ini, saya sedang menuntaskan sebuah buku duet bertema parenting, bersama rekan penulis yang luar biasa, pemerhati anak sekaligus pengajar yang hebat. Visi kami ingin membagikan nilai-nilai yang positif untuk perempuan-perempuan di seluruh Indonesia lewat tulisan yang membangun. Semoga di tahun 2018, buku ini rampung dan bisa di-publish.

 

3. Mengoptimalkan blog

Sebenarnya, blogging bukanlah hal yang sama sekali baru untuk saya. Sejak 5 tahun yang lalu, saya sudah mencoba menulis di blog, meski masih yang gratisan. Tulisan-tulisan yang ada di dalamnya juga kebanyakan masih berupa curhatan khas emak-emak yang butuh penyaluran. #Eaaa…

Sejak awal tahun 2017 ini saya memendam keinginan untuk memiliki blog berbayar. Keinginan ini makin menggebu seiring kiprah saya di dunia perbukuan, terutama saat buku solo saya keluar. Tapi yang namanya emak-emak, banyak sok sibuknya. Urusan ini-itu akhirnya membuat saya lupa dan mengabaikan waktu yang terus berjalan. Hingga akhirnya akhir Oktober 2017, saya memiliki blog sendiri, di sini.

Saya belajar keras dan berusaha cepat. Meski kadang terseok-seok dan mabuk perjalanan, saya terus berlari mengejar ketinggalan di dunia per-blogging-an ini. Harapan saya nggak muluk-muluk: tetap menulis dan berbagi banyak hal lewat tulisan, syukur-syukur menang di beberapa blog contest. 

Keinginan untuk meraup dolar lewat blog memang ada. Saya nggak mau munafik. Tapi saya sadar banget kemampuan saya masih seujung kuku jari. Saya nggak mau jadi blogger karbitan. Saya mau berproses dan semoga tahun 2018 ini menjadi kelas yang efektif bagi mata kuliah blogging yang saya ambil. Minimal, saya bisa berbagi manfaat lewat blog yang saya miliki ini.

 

4. Mahir menyetir

Bagi sebagian orang hal ini mungkin terasa lucu. Saya, emak rempong yang hampir menyentuh usia kepala 4, punya keinginan bisa mahir menyetir. Lha selama ini ke mana aja? Tanya beberapa orang.

Selama ini, saya mempercayakan diri dan anak-anak kepada orang lain. Ada suami, bapak atau driver online yang selalu siaga mengantarkan kami ke manapun. Enak memang, tapi mengingat usia bapak saya yang semakin sepuh, rasanya tak elok kalau urusan antar-jemput cucu menjadi tanggung jawab beliau. Maluu… #tutupmuka

Jadi, tahun 2018 saya bertekad untuk bisa menjadi driver cantik yang siap mengantarkan anak-anak ke mana saja. Semoga tidak ada halangan berarti ya. Amin.

 

5. Mendatangi tempat baru

Keinginan mengunjungi tempat-tempat baru sebenarnya sudah sejak lama saya impikan. Kenapa resolusi ini saya anggap penting? Karena dengan mendatangi tempat-tempat baru, membuat jiwa dan raga saya lebih segar dan sehat. Nggak harus keluar kota atau keluar negeri, saya hanya berharap bisa pergi ke beberapa tempat baru di sekitaran Jogja. Tapi, kalau dikasih kesempatan sampai keluar negeri juga nggak nolak sih. Hehe..

 

6. Mengutamakan kesehatan

Saya pernah sakit lumayan berat, bahkan sempat dirawat hampir dua pekan. Sejak itu, saya bertekad kalau sakit jangan lama-lama. Nggak enak, sumpah! Nggak hanya raga yang tersiksa, jiwa saya juga terpenjara karena tak bisa melakukan banyak hal. Ditambah lagi, anak-anak jadi terlantar.

Susahnya, menjadi penulis sering kali membuat saya harus rela begadang dan minum bergelas-gelas kopi di malam hari. Dan saya tahu, hal ini nggak sehat. Hiks… So, di tahun 2018 mendatang saya bertekad untuk hidup lebih sehat dan seimbang lagi. Saya ingin bisa berolahraga lebih teratur, memiliki waktu tidur yang lebih “manusiawi” dan makan makanan sehat lebih banyak lagi.

 

Sakit jangan kelamaan, segera pulihkan!

Pernah dengar istilah “emak-emak nggak boleh sakit”? Tampaknya hal itu berlaku juga bagi saya. Kerempongan mengurus keluarga, terkadang membuat saya lupa akan diri sendiri. Apalagi saat si kecil sedang tak enak badan. Saya suka ketularan dan akhirnya tepar berdua. Yang repot satu keluarga deh jadinya. Seringnya, flu batuk dan pilek yang datang menyerang. Terlebih di musim hujan seperti sekarang ini. Rasanya tersiksa sekali kalau tubuh meriang dan nggak fit tapi harus tetap melakukan urusan domestik, plus mengejar deadline.

Saya tergolong orang yang malas ke dokter kalau nggak benar-benar terpaksa. Biasanya, saya lebih memilih obat flu andalan keluarga. Kecuali, kalau dalam waktu 3 hari kondisi saya tak kunjung membaik, baru saya berkunjung ke dokter, terutama saat batuk melanda. Saya memang paling sensitif soal penyakit yang satu ini.

Nah, untuk memulihkan kondisi sehabis sakit, biasanya saya juga mengonsumsi vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Di antara sekian banyak produk yang tersedia, saya pilih Theragran-M yang mengandung multivitamin dan mineral, dua zat yang sangat baik untuk mendukung stamina tubuh.

Dengan Theragran-M, aktivitas menulis jalan terus

 

Sebagai informasi, ada dua mineral esensial yang penting untuk tubuh yakni magnesium dan zinc. Keduanya berfungsi untuk membantu memproteksi tubuh dan mencegah masuknya bakteri atau virus jahat.

 

Magnesium

Magnesium termasuk dalam kelompok mineral penting yang sangat dibutuhkan tubuh. Secara alami zat ini bisa kita peroleh dari makanan sehari-hari seperti kacang-kacangan, aneka sayuran hijau, ikan atau rempah-rempah. Hanya saja, agak susah bagi kita untuk mengetahui takaran yang tepat. Ditambah lagi dengan pola makan yang kurang sehat, membuat kita sering kali tak bisa mencukupi kebutuhan tubuh akan magnesium ini.

Padahal, magnesium sangat bermanfaat untuk mencegah osteoporosis, menjaga fungsi kerja otot, menjaga metabolisme tubuh dan menghindarkan kita dari gangguan pencernaan, mengontrol kadar gula darah, serta membantu menstabilkan tekanan darah. So, nggak ada salahnya kalau kita mencukupi kebutuhan tubuh akan magnesium ini dari luar.

 

Zinc

Tak kalah penting dari magnesium, zinc juga berperan sebagai katalisator reaksi-reaksi biokimia dalam tubuh saat beraktivitas. Selain itu, zinc merupakan salah satu komponen penting dalam DNA, RNA dan penyatuan asam nukleat. Zinc banyak ditemukan dalam sel tubuh, sistem saraf, sistem kekebalan tubuh, jaringan darah, sistem pencernaan, dan terlibat dalam metabolisme dengan hampir 300 jenis enzim dalam tubuh.

Saat kekurangan zinc, tubuh akan lebih cepat terserang penyakit. Defisiensi zinc bahkan diklaim menjadi salah satu penyebab kematian lebih dari 800.000 anak di seluruh dunia setiap tahunnya. Mengerikan ya…

 

Mengapa Theragran-M

Theragran-M telah diresepkan sejak 40 tahun yang lalu loh! Ih nggak nyangka kan? Tablet salut gula ini mengandung multivitamin lengkap seperti Vitamin A,Vitamin B, Vitamin C, Vitamin D, dan Vitamin E. Selain itu, juga ada mineral penting seperti magnesium, zinc, zat besi, tembaga, mangan dan iodium.

Kandungan dalam Theragran-M, lengkap dengan dosis dan aturan pakainya.

 

Theragran-M juga sangat aman dikonsumsi karena telah terdaftar di BPOM dengan nomor registrasi DTL 1224403416A1. Selain itu, juga sudah mengantongi label halal dari MUI dan dengan nomor 00280032151004. Udah gitu, kita nggak perlu repot mencarinya, Moms. Theragran-M tersedia di seluruh apotek, toko obat ataupun online shopping. Oya, bagi Mommies yang belum tahu, coba lihat deh lingkaran biru dengan garis tepi hitam yang ada pada kemasan Theragran-M. Nah, itu adalah tanda khusus untuk obat-obatan bebas terbatas yang bisa diperoleh tanpa resep dokter. So, no worries ya Moms!

 

Theragran-M melengkapi keseharianku, terutama dalam masa pemulihan sehabis sakit.

 

Selain memberi tubuh lebih banyak waktu beristirahat, Theragran-M keluaran PT Taisho Pharmaceutical ini menjadi andalan saya dalam masa pemulihan sehabis sakit. Tentunya saya juga mengimbanginya dengan makanan bergizi dan air putih yang cukup.

Back to laptop resolusi tahun baru, saya makin PD dan bersemangat menyongsong hari-hari yang luar biasa di depan sana. Dengan tubuh yang fit, beragam aktivitas dan rencana yang sudah saya susun bisa terlaksana dengan baik. Tentunya, atas seizin Tuhan. Karena itu saya akan melangkah dengan iman, mengandalkan Dia dan menjadikannya kapten dalam perjalanan melewati tahun 2018 nanti.

Resolusi tahun baru memang bukan segalanya. Tapi dengan menuliskan resolusi seperti ini, paling tidak akan menjadi pengingat dan penuntun perjalanan saya selama satu tahun ke depan. Selain itu, di akhir tahun depan, saya bisa membukanya kembali untuk mengintrospeksi diri.

Nah, itu tadi cerita saya tentang resolusi tahun 2018. Bagaimana dengan Mommies, sudahkah memiliki resolusi seperti saya? Well, apapun rencana dan harapan kita, semoga semuanya mendatangkan kebaikan dan diberikan kelancaran ya. Jangan lupa, utamakan kesehatan!

 

See you next year, Mommies!

Love, 

Bety

***

 

Referensi:

-http://www.alodokter.com

-http://www.hellosehat.com

-http://www.theragran.co.id

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.