Saat Kuman Masuk ke Tubuh Kita

Kemarin, si Kecil Kevin disuntik 2 kali. Paha kiri dan kanan. Seketika tangisnya pecah. Seperti yang sudah saya perkirakan, air matanya menderas di kedua pipi gembulnya. Mata beningnya mendadak pilu. Tatapannya merontokkan hati saya. Memaksa saya menempelkan bibir saya ke puncak keningnya. Berharap bisa meredakan sedikit rasa sakitnya.

Sedetik kemudian kedua tangan mungil yang tadinya saya pegang erat ke atas itu, terulur ke arah saya sambil mendekap erat leher saya. Tak peduli dengan aroma asem dan kecut akibat keringat yang mengucur seharian tadi. Ya, saya memang nggak sempat mandi pas mau ke dokter tadi sore. Bukan gara-gara malas, tapi waktu yang kurang bersahabat.

Maaf ya, Dek. Simbok harus tega kali ini. Bukan karena simbokmu ini kejam. Semua demi masa depan. Sebenarnya, hati simbok tercabik saat jarum-jarum suntik itu melukai paha mulusmu. Kelak, kamu pasti paham kenapa kamu harus disuntik.

Nggak lama, Kevin mulai rewel. Nampaknya kuman dan teman-temannya tadi mulai bereaksi. Mencoba mengobrak-abrik tubuh gendutnya. Rengekan-rengekan kecil dan seringainya membuat saya nggak tega ninggalin dia seperti biasanya. Dalam tidurnya pun, Kevin kadang-kadang merintih seakan menahan rasa sakit di dalam sana. Duh, Le…yang sabar yaaa…hiks

Sekarang jam 4 pagi. Saya kebangun sejak satu jam yang lalu. Nggak bisa merem lagi. Saya perhatikan anak-anak yang sedang terlelap. Ada haru dan sesuatu rasa yang sulit saya jelaskan.

Sebagai manusia, kadang kita ada di posisi seperti Kevin. Berontak dan menangis keras saat kuman-kuman kecil menyusup dalam hidup. Memaksa kita menerimanya dengan konsekuensi rasa sakit yang mendera. Kita merasa takut, nyeri, sedih, dan kadang protes kenapa harus menjalani fase ini.
Sama seperti Kevin sekarang, dia nggak tau kenapa dan untuk apa dia harus disuntik. Yang dia tahu, rasanya sakit.

Sama seperti kita. Kadang di satu titik harus menerima rasa sakit dan menjalani saat-saat kurang mengenakkan. Namun semua itu akan berlalu, menyisakan kenangan yang akan kita tertawakan kelak di masa depan. Saat semuanya itu tuntas, senyum lebar menghias bibir kita dan dengan lantang kita bisa beryukur kepada Yang di Atas. Bukankah Dia yang Maha Tahu, kenapa kita harus menerima suntikan kuman itu? Yap, supaya kita bertambah kuat dan berhasil mengalahkan mereka jika suatu saat nanti ada badai yang lebih besar. So, hanging there! God is on control.

image

Leave a Reply