Several Dos and Don’ts dalam Mendidik Anak (versi saya)

Wiiiiihhh..

Judulnya bikin kening mengkerut nih simboknya Kevin..hehehe…
Bukaaaan..bukan mau menggurui kok, simbok cuma pengen sharing aja. Berbagi. Kata orang mah kan berbagi itu indah. Nah berhubung sehari hari simbok kerjaannya uleng-ulengan sama anak lanang yang gendut gendut itu, makanya ya sharingnya seputaran kegiatan sehari-hari bersama mereka.

For your info, anak lanang yang mbarep bulan ini tepat ulang taun yang ke 10. Wadduuuuh, jadi bentar lagi abegeh ya… sementara si kecil baru 1,5 tahun. Sooo.. simbok sempet jetlag dengan perbedaan cara mendidik buat mereka berdua. Yang satu harus lebih banyak diberi kebebasan bereksplorasi, yang satu harus mulai tarik ulur dengan diberi tanggung jawab sedikit demi sedikit.

Na, kalo berdasarkan pengalaman simbok dalam berkarir selama 10 tahun ini kira-kira ya begini cara simbok mendidik mereka. Buat yang nggak cucok nggak pa pa, nggak usah ditiru. Yang namanya metode, cara ataupun strategi itu masing-masing orang boleh boleh aja kok berbeda …
Yukk, lanjut..

^_^

So, here they are…
“Dos and don’ts when growing up our children” (versi saya ). Check them out!

1. Kita harus penuh kasih, mengayomi dan lembut.

Terutama saat usia mereka batita. Anak-anak masih dalam masa-masa paling krusial selama hari-hari pertama hidup mereka. Kitalah yang bertanggung jawab mencetak pribadi seperti apa mereka kelak pas udah gede. Kalau kita sering marah, bentak-bentak, ya mereka akan tumbuh menjadi pribadi seperti itu. Ingat, kids aren’t just followers. They’re the best duplicators!
Beri sentuhan dan pelukan, sebanyak yang dia perlukan. Semakin banyak kontak fisik antara ortu dan anak akan menumbuhkan perasaan diterima oleh anak. Dan itu akan sangat mempengaruhi karakternya saat dewasa nanti.

 

2. Tegas dan konsisten

Saat anak sudah mulai sadar akan lingkungan di sekitarnya, mereka akan mulai menunjukkan sikap tertarik pada sesuatu atau seseorang dan memiliki kehendak sendiri. Nah kini saatnya kita harus mulai tegas namun tetap lembut. Kalo ada hal-hal yang kita larang, maka kita harus  menjelaskan mengapa hal itu tidak boleh. Selanjutnya kita harus konsisten. Konsisten untuk selalu berkata “tidak” pada hal-hal yang memang tidak boleh. Usahakan agar semua anggota keluarga yang lain juga mendukung hal ini. Jangan sampai nanti anak merasa punya Godfather saat mami atau papinya melarangnya melakukan sesuatu. Si kakak sampe detik ini nggak pernah mukul atau nyubit walaupun pas lagi marah atau ngambek. Kenapa? Soalnya tiap kali dia marah, simbok selalu meluk meskipun dia meronta sambil nangis histeris. Kalo tangan atau kakinya mau beraksi, langsung deh dipegangi sambil dibilangin kenapa ngga bolehnya.

Jadinya setiap ada anak lain yang suka mukul, si kakak langsung menatap dan nanya : kok dia boleh? Hahaha..gubraaak!! PR lagi deh ngejelasin kenapa. Tapi so far, masih explainable kok.

Memasuki usia sekolah, pelan-pelan mereka akan mulai “terkontaminasi” oleh lingkungan luar. Si kakak pernah pas umur 4 taunan, suatu hari berteriak sambil nunjuk-nunjuk ke saya “mami ngga punya ota*…” cuma gara-gara simbok lupa naruh mainan yang sedang dia cari.
Waduuuuuh..kaget bukan kepalang dong simbok. Nurutin emosi, langsung saya pukul pantatnya sampai nangis. Setelah itu nyesel juga sih, lalu saya buru-buru memeluknya sambil minta maaf dan njelasin kalo apa yang dia bilang itu nggak sopan.
Di usia ini, reward and punishment bisa diterapkan.

 

3. Dengarkan mereka, jangan melulu memaksa mereka untuk menuruti omongan kita.

Ada masa dimana anak akan mulai membantah atau ngeyel. Kalo bahasanya simbok sih “mbandel” wkwkwk..
Apalagi anak cowok. Aaduuh…kadang ngga selesai sehari kalo udah debat. Argumentasi mereka kadang-kadang beyond our mind loh! Anak-anak jaman sekarang nih kan generasi milenium. Apa yang masuk ke otak mereka itu udah kayak virus yang menyebar viral ke mana mana. Beda sama jaman kita kecil dulu. Kita dulu kalo dibilangin ortu langsung iyah iyah aja. Nunduk, takut kena marah kalo buka mulut. Kalo anak jaman sekarang keknya banyakan mereka daripada kita deh ngomongnya hahahah…. makanya kita yang kudu nempatin diri di posisi yang seharusnya. Bagaimanapun juga, kita adalah panutan buat mereka, jadi harus bertindak hati-hati menyikapi kelakuan “bandel” mereka itu. Dan di sini ketegasan kita harus pegang peranan. Pahami apa maunya mereka dan usahakan untuk bicara seperlunya saja. Semakin kita banyak ngomong, akan semakin ngeyel lah mereka.

 

4. Jangan kebanyakan ngritik atau nyuruh-nyuruh. Cukup beritahu anak apa yang sebaiknya mereka lakukan dan alasannya.

Hal ini sih simbok alamin sejak si kakak usia sekitar 9 tahunan. Masa itu adalah masa di mana anak mulai beranjak ke fase remaja. Mulai akil balik, dan mungkin mulai tertarik pada hal-hal yang sensual. Artinya sebentar lagi mereka mungkin akan mulai suka pada lawan jenis, masuk masa puber dan lain-lain. Nah, harus ekstra hati-hati menjelaskan hal-hal yg berkaitan sama reproduksi, pornografi dan semacamnya. Akan jauh lebih  baik kalo mereka dapet info langsung dari kita ketimbang dari orang lain. Di usia ini, kehendak pribadi mereka udah jauh lebih  besar dibanding sebelumnya.

Jadi perlakukan mereka sebagai teman. Usahakan nggak nyuruh-nyuruh terlalu banyak, tapi kasih tau aja apa yang sebaiknya mereka lakukan sambil dijelasin alasannya. Mereka akan lebih kooperatif kalo penjelasan kita masuk akal.
Terbukti si kakak, pas diomelin suruh belajar malah otaknya buntu,nggak bisa belajar. Tapi setelah suasananya dibikin cair, malah langsung tokcer. Nggak perlu lama-lama, eh kelar belajarnya. Nilainya bagus lagi 🙂

 

5. Hargai dan beri pujian sebanyak yang bisa kita berikan.

Apalagi kalo itu adalah sebuah prestasi yang membanggakan. Itu akan menumbuhkan kepercayaan diri mereka.

 

Itulah beberapa metode pendidikan kepada anak-anak sejak usia dini sampai remaja versi simboknya Kevin. Cieeee….ciee….. pake istilah metode segala hihihi….tapi, pendidikan kayak gini nih nggak ada kurikulumnya cyiin… dan yang pasti masih akan ada buanyaaak buanget kelas-kelas pendidikan yang akan kami lalui bersama-sama. Semoga simbok bisa terus mengasah diri menjadi the best mentor buat mereka. Ingat, pendidikan karakter yang pertama dan utama berawal dari kita, simbok-simbok seperti saya ini. Mari manfaatkan kesempatan yang mungkin hanya sekali seumur hidup menghampiri kita, ya moms! Menjadi orangtua itu adalah perjalanan panjang seumur hidup. Never stop learning, never stop praying.

 

Salam super dari simbok rempong!

image

One thought on “Several Dos and Don’ts dalam Mendidik Anak (versi saya)

Leave a Reply