Menari atau Menangis di Tengah Hujan?

image

Hari ini, langit Jogja sendu sekali. Bukan karena seneng duit, loh hehe. Tapi sejak pagi tadi awan kelabu sudah bergelayut manja di ufuk timur. Bahkan sebenarnya dari kemarin cuacanya mendung-mendung dan suhu udara lumayan dingin dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Pengaruh Imlek? Hehe, maybe yes maybe no.

Yang jelas, hari ini saya dibuat pusing dengan jemuran. Yup, angkat tangan yuk ibu-ibu yang ngalamin nasib sama kayak saya! Bikin galau ya, Bu…. keluar-masuk-keluar-masuk udah kayak anak sekolahan lagi isirahat aja hehehe. Repot, deh pokoknya. Kalau boleh minta sih, pas punya cucian banyak seperti ini jangan hujan dong. Besok aja, kalau semua uda kering, boleh tuh hujannya turun lagi. Jadi kita bisa nyetrika nggak pakek kepanasan. Haaa, tuh kan mulai deh ngatur-ngaturnya.
Ya iya, kan enak kalo semua bisa kita atur. Kenyataannya? Nggak bisa kan? Jadi?

Ikhlas, Bu!
Jurus ikhlas nampaknya jadi andalan di saat seperti ini. Lha wong kita nggak punya kemampuan buat ngatur alam. Betul, to? Emangnya kita ini siapa? Udah boleh hidup gratis, dikasih napas gratis, masih rempong mau ngatur ini itu. Hhmmmm, emang susah jadi manusia.

Dalam hidup pasti kita sering juga ngalamin hal-hal yang nggak kita sukai, betul? Ada saat di mana kita dibenci teman, dihujat orang, dimarahi bos, ditipu klien, dikecewain pasangan, ditinggalkan oleh orang terkasih, dan lain-lain. Bisa nggak kita jengkel, galau, sedih, dendam, kecewa? BISA BANGEEUD!

Ssst…. tapi itu udah mainstream, coy! 90% orang akan melakukan itu di saat keadaan hidup tidak baik.  Betul? Mau nggak kita jadi 10% nya lagi dengan memilih untuk tidak kecewa, mendendam, galau berlebihan dan lain-lain? WHAT…??

Yes! Menjadi kecewa atau tidak menghadapi kehidupan itu adalah pilihan. Kita yang menentukan, bukan keadaan itu. Sama seperti hujan dan panas. Kita tidak bisa mengatur hari ini harus hujan atau tidak, panas atau mendung. Yang kita bisa adalah meresponnya. Tidak semua keajaiban datang saat hujan berhenti. Seringkali justru keajaiban menghampiri kita saat kita bisa menari di tengah hujan itu. Pilihan ditangan kita : menari atau menangis di tengah hujan. It’s up to you.

Yuk Bu, kita belajar mensyukuri kembali semua keadaan yang Tuhan izinkan untuk kita lewati. Mungkin itu kesempatan seumur hidup lo. Seperti halnya kita nggak mungkin kembali ke bangku kelas 1 SD lagi, kan….
Menjadi dewasa dalam proses yang bijak akan jauh lebih baik daripada melewatinya dalam dendam dan kegalauan. Izinkan hujan, panas, mendung, dan awan menghiasi hari-hari kita. Terima saja dengan ikhlas, karena untuk semua itu ada masanya.
Doakan orang-orang yang menyakiti kita di masa lalu, karena oleh merekalah kita menjadi kuat. Doakan juga mereka yang berbuat baik, karena oleh merekalah hidup kita berkembang.

Kata wong Jowo “urip iku kudu murup” 
Mari kita hidupkan lentera jiwa supaya hidup kita menerangi sekeliling kita.

Gusti mberkahi
^_^

*gambar hasil googling, bukan koleksi pribadi

Leave a Reply