Aku, Anakku dan Baby Blues Syndrome


Ding dong!

Jam biologis saya berdentang. Panggilan untuk menemukan soulmate, akhirnya membawa saya untuk mengikat janji suci sehidup semati. Laki-laki gagah bertubuh tinggi itu hampir selalu sanggup meneduhkan jiwa muda saya yang terkadang masih penuh gejolak.

Ya! Saya, perempuan muda yang selalu penuh energi, yang memiliki mimpi menaklukkan dunia, mengambil keputusan untuk mengakhiri masa lajang di usia yang baru 24 tahun. Masih kinyis-kinyis, bahkan cenderung polos. Generasi jaman now mungkin akan berpikir dua kali untuk mengambil langkah yang saya pilih. Tapi itulah keputusan saya: menikah di usia yang relatif muda, meninggalkan banyak kesenangan dan hura-hura usia duapuluhan.

Memasuki gerbang pernikahan dengan segudang harapan dan mimpi.

 

Lalu, masuklah saya dalam euforia hidup pernikahan. Menikmati indahnya pacaran halal, menghabiskan banyak waktu berdua, sekaligus menghadapi banyak tantangan hidup yang rasanya jauh lebih menegangkan dibanding keseruan jaman masih single. Apalagi ketika dinyatakan positif hamil. Wow, rasanya campur aduk.

Di satu sisi, saya bahagia karena akan menjadi ibu. Namun di sisi lain, terkadang jiwa muda saya merasa belum siap menghadapi fase kehidupan yang betul-betul baru itu. Proses kehamilan yang tidak mudah, tekanan pekerjaan yang tak kenal kompromi, hingga masalah keluarga, menjadi pelajaran hidup yang tak akan pernah saya lupakan.

Ya, saya bergulat dengan banyak problema yang menjadi ujian untuk saya naik kelas. Memiliki bayi ternyata membuat hidup saya berubah drastis. 180 derajat terbalik. Seluruh waktu dan tenaga saya tersedot habis oleh seorang makhluk kecil tak berdaya. Proses persalinan yang spektakuler dan cukup dramatis, menenggelamkan saya dalam pusaran arus emosi dan psikis yang memabukkan.

Tak cukup hanya merasakan sakitnya melahirkan, saya juga harus mengalami Baby Blues Syndrome. Malam-malam panjang yang penuh tangisan dan teriakan, jam tidur yang hanya bisa dihitung dengan tiga jari, hingga vonis hernia atas bayi saya di usianya yang baru 3 minggu, membuat dunia saya berputar cepat tak karuan.

Butuh waktu lama bagi saya untuk pulih. Bukan. Saya nggak perlu beberapa bulan untuk menghapuskan trauma buruk tersebut dari memori. Saya butuh waktu bertahun-tahun untuk bangkit dan melupakan semua kenangan itu.

 

Baby Blues Syndrome dan  Postpartum Depression

Pixabay

 

Sering disebut juga dengan istilah Postpartum Distress Syndrome. Sindrom ini merujuk pada suatu kondisi di mana muncul perasaan sedih atau gundah pada seorang perempuan pasca melahirkan. Keadaan ini bisa berlangsung hingga 2 minggu setelah kelahiran, dan mencapai puncaknya di hari ke 3-4. Pada kasus saya, bahkan sampai 3 minggu dan baru mulai reda saat anak pertama divonis hernia. Hiks 😭😭

Perubahan hormon selama hamil dan melahirkan, ditambah lagi hadirnya bayi yang harus dirawat, diperhatikan dan dipenuhi kebutuhannya selama 24 jam, diperkirakan menjadi penyebab atau faktor pemicu terjadinya Baby Blues Syndrome ini. Kadar estrogen yang menurun drastis pasca melahirkan, ketakutan-ketakutan akan bisa atau tidaknya merawat si kecil, kelelahan dan kurang tidur bisa membuat ibu tertekan dan bad mood. Meski demikian, secara medis tidak diketahui penyebab hadirnya sindrom ini dengan tepat.

Gejala umum yang bisa dilihat pada penderita Baby Blues Syndrome antara lain:

  • Rasa sedih dan cemas yang berlebihan
  • Sering menangis
  • Secara emosi tidak stabil, mudah marah, tersinggung dan tidak sabaran
  • Sakit kepala, kelelahan, susah makan dan tidur
  • Kurang PD
  • Takut akan banyak hal

Baby Blues Syndrome sebenarnya masih bisa dibilang ringan karena “hanya” berlangsung sekitar 3 minggu pasca melahirkan. Yang lebih berat adalah Postpartum Depression. Gejala yang tampak, mirip seperti pada ibu yang terkena Baby Blues Syndrome. Hanya saja intensitasnya lebih sering, lebih lama, dan lebih hebat. Pada beberapa orang, bahkan bisa memicu tindakan bunuh diri atau munculnya keinginan untuk menyakiti atau membunuh sang bayi.

 

Tindakan pencegahan

Membebaskan diri dari ancaman Baby Blues Syndrome ataupun Postpartum Depression bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk itu, ibu perlu ditemani, dibantu dan didukung sepenuh hati oleh orang-orang terdekatnya.

ivona.bigmir.net

 

Selain itu, calon ibu dan ibu baru juga perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1. Lakukan persiapan mental, baik menjelang ataupun selama proses kehamilan, menjelang kelahiran dan selama masa menyusui
2. Lengkapi pengetahuan tentang mengasuh bayi, terutama di hari-hari awal kehidupannya.
3. Usahakan untuk memiliki waktu istirahat yang cukup
4. Sharing dengan ibu-ibu lainnya lewat komunitas yang membangun
5. Jaga pola makan sehat
6. Be positive dan sediakan waktu khusus untuk berdoa

Sesaat setelah anak pertama didiagnosa hernia, saya merasakan tamparan hebat. Saya merasa jadi ibu yang sangat buruk, yang tega mengabaikan anak sendiri. Tapi di sisi lain, saya merasa tak berdaya dan sering kali terabaikan. Namun suara hati saya yang terdalam, berpadu dengan naluri keibuan yang mulai muncul, membuat saya perlahan sadar bahwa anak saya membutuhkan saya. Dari situ saya memaksakan diri untuk sembuh dan bertekad menerima kehadirannya dengan lebih damai. Saya betul-betul tak ingin anak saya merasakan kesakitan hingga harus berhadapan dengan pisau bedah.

Syukur kepada Tuhan, niat saya untuk sembuh sekaligus permohonan doa yang tak putus untuk kesembuhan anak saya, telah membuka pintu surga. Dengan pengorbanan yang tak sedikit, air mata dan kesabaran yang saya bangun mati-matian, Tuhan berkenan menyembuhkan anak saya tanpa operasi. Sejak itu, saya bertekad menjadi ibu yang lebih baik lagi.

 

Problema pengasuhan anak

Mengasuh dan mendidik anak adalah proses panjang yang sering kali terasa melelahkan. Apalagi bagi seorang ibu. Memang benar, golden ages seorang anak akan berlangsung hingga 5 atau 6 tahun. Namun, kalau boleh jujur, 2 tahun pertama adalah waktu paling spektakuler bagi saya.

Masa dua tahun pertama, anak masih sangat ringkih. Tak hanya secara fisik ia perlu dijaga dan dilindungi. Secara psikis dan mental, anak sangat membutuhkan perhatian dan pelayanan sepenuh waktu. Dan inilah yang acap kali membuat saya harus jungkir balik mengelola waktu dan tenaga.

Hal lain yang menjadi permasalahan serius bagi saya adalah ketika anak sakit. Rewel dan menuntut perhatian lebih, hanyalah secuil kehebohan yang pastinya dirasakan oleh semua ibu saat si kecil tidak fit. Secara fisik, batita memang belum berkembang sempurna. Tak heran, berbagai penyakit rajin menyambangi mereka. Saya bahkan punya daftar penyakit “langganan” anak-anak saya, yakni batuk, pilek, dan demam.

 

Menangani demam pada anak

Sebenarnya, demam adalah salah satu reaksi tubuh untuk menghalau benda asing yang masuk, semisal bakteri, virus atau parasit. Sel darah putih yang bertugas sebagai prajurit, akan mengeluarkan zat bernama pyrogen untuk mengatasi infeksi pada tubuh. Nah, pyrogen inilah yang akan mengirimkan sinyal pada otak untuk meningkatkan suhu tubuh sebagai bentuk pertahanan diri.

Meski bukan penyakit, demam tetap memberikan efek kurang nyaman, terutama pada anak-anak. Karena itu, sebaiknya jangan terburu-buru memberikan obat pada anak, atau membawanya ke dokter. Kecuali kalau kondisi fisik anak betul-betul mengkhawatirkan.

Nah, inilah yang bisa kita lakukan saat si kecil demam:
1. Periksa dengan punggung tangan
Biasanya, anak akan menunjukkan gejala-gejala seperti rewel, batuk-batuk, hidung tersumbat dan keluhan pusing sebelum suhu tubuh meningkat. Ada baiknya, kita memeriksa dahinya dengan punggung tangan. Jika terasa hangat, suruhlah anak beristirahat dan minum.

2. Ukur suhu tubuh dengan termometer digital
Periksalah kondisi anak. Kalau suhu tubuhnya terasa makin panas, ambil termometer digital dan ukurlah suhunya. Demam di bawah 38°C, biasanya belum memerlukan obat, kecuali jika anak kita masih bayi (0-6 bulan). Saya biasanya mencatat perubahan suhu anak selama beberapa hari. Hal ini sangat berguna jika sewaktu-waktu saya harus membawanya ke dokter.

3. Kompres dengan air hangat
Mengompres anak dengan air hangat dipercaya aman dan lebih efektif untuk menurunkan demam. Jangan menggunakan air dingin atau alkohol yang justru bisa membuat kondisnya lebih buruk.

4. Berikan lebih banyak cairan
Suhu tubuh yang tinggi, bisa saja mengakibatkan dehidrasi. Karena itu, mintalah anak untuk minum lebih banyak. Saya biasanya memberikan sari buah, teh hangat, atau air putih pada anak-anak saya.

5. Pakaian pakaian tipis dan nyaman
Banyak orang tua yang tergoda untuk memakaikan baju tebal saat anak demam. Padahal cara ini justru kurang tepat. Lebih baik pakaikan baju yang tipis dan nyaman agar panas tubuh menghilang. Jika anak menggigil berlebihan, segera bawa ke dokter.

6. Mandi air hangat
Air hangat bisa membuat tubuh lebih rileks, peredaran darah lebih lancar dan demam turun. Namun pastikan anak tidak kedinginan ya.

7. Berikan obat penurun panas
Saat suhu tubuh anak menyentuh angka 38°C, kita bisa memberikan obat penurun demam. Tapi jangan asal membeli merk obat ya, Moms. Sesuaikan jenis dan dosisnya dengan kondisi anak.

8. Bawa ke dokter jika demam tak kunjung turun selama 2×24 jam, atau kalau kondisi anak memburuk, lemas, muntah dan menunjukkan tanda dehidrasi.

Saya pernah memiliki pengalaman buruk dengan pemberian obat penurun panas pada anak pertama saya. Waktu itu, kalau nggak salah dia berumur sekitar 10 bulan dan sedang tumbuh gigi. Tubuhnya anget dan rewel sekali, padahal saya harus menghadiri sebuah acara Natal keluarga. Mau nggak mau, dia saya ajak serta. Menjelang acara mulai, dia justru demam tinggi.

Sehari sebelumnya, saya membeli obat penurun demam di apotek. Berbekal informasi dari petugas, saya pilih obat yang mengandung ibuprofen. Pertimbangannya, obat ini katanya efektif meredakan rasa nyeri yang mungkin dirasakan anak saya. Ibuprofen ini termasuk obat antiinflamasi nonsteroid yang dapat meredakan rasa sakit ringan hingga menengah, serta mengurangi peradangan. Ok, cocok. Batin saya.

Karena sebelumnya anak saya tak pernah mengalami alergi obat apapun, saya santai saja memberikan obat berisi ibuprofen tersebut. Tak sampai sejam kemudian, tubuhnya menggigil hebat dan penuh bintik-bintik merah disertai bengkak di sana-sini. Bibir dan kelopak matanya melembung sangat besar, sementara tubuhnya masih hangat.

Panik, saya langsung meninggalkan acara dan bergegas ke UGD (karena waktu itu sudah hampir tengah malam). Di sana, dokter bilang bahwa anak saya kemungkinan alergi terhadap obat yang diminumnya. Wew! Nyeselnya setengah mati. Tapi mau bagaimana lagi, saya memang benar-benar nggak tahu kalau dia alergi dengan ibuprofen. Jadilah setelah peristiwa itu, saya memasukkan ibuprofen ke dalam daftar obat yang tak boleh ia konsumsi.

 

Kenapa saya pilih Tempra Syrup?

Alasan utama sudah pasti karena saya harus menghindari ibuprofen, agar anak saya nggak alergi lagi. Alasan kedua karena saya mengikuti saran DSA langganan yang merekomendasikannya. Oke deh, siap 86 Komandan!

Kandungan utama dalam tempra kan paracetamol, jadi lebih bersahabat. Selain itu, paracetamol juga aman di lambung. Bahkan bisa diberikan sebelum makan. Atau jika anak benar-benar menolak makanannya, kita tetap bisa memberikan obat ini kepadanya. Meski demikian, setelah makan tetap menjadi saat yang paling dianjurkan untuk mengonsumsi obat. Sejak anak-anak berusia 1 tahun lebih, saya selalu sedia tempra di rumah.

 

Tempra Syrup, andalan saya saat si kecil demam

 

Berbeda dengan ibuprofen yang bekerja dengan cara menghambat enzim yang berperan dalam produksi prostaglandin, yaitu senyawa yang menyebabkan peradangan dan rasa sakit, paracetamol dalam tempra bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengaturan suhu di otak. Karenanya, penurunan suhu tubuh akan terjadi secara bertahap. Selain itu, paracetamol juga berfungsi sebagai analgetika dengan meningkatkan ambang rasa sakit. Hal ini akan sangat membantu anak menghadapi pusing, sakit kepala dan nyeri yang biasanya menyertai demam.

Pada kasus anak pertama saya, ibuprofen bisa jadi merupakan penyebab tubuhnya menggigil hebat. Hal ini karena ibuprofen memang relatif lebih cepat menurunkan demam, namun tubuh berisiko “kaget” karena perubahan suhu yang cukup drastis. Dan karena ia alergi, hal itu diperparah dengan munculnya bintik merah dan bengkak di sekujur tubuh.

 

Kandungan dalam Tempra Syrup

 

Yang nggak kalah penting lagi, tempra itu 100% non-alkohol ya, Moms. Rasa buahnya juga enak, jadi nggak perlu repot maksa-maksa anak untuk minum. Udah gitu tempra sangat praktis loh, soalnya tidak perlu dikocok karena formulanya larut 100% dengan dosis tepat. Jadi, tidak menimbulkan over dosis atau justru kurang dosis. Yang pasti, kita harus memperhatikan dosis yang dianjurkan. Jangan kurang atau melebihi takaran yang tertera di kemasan, atau sesuai petunjuk dokter.

 

Dosis pemberian Tempra Syrup

 

Suatu kali saat berumur 1.5 tahun, Kevin, anak kedua saya, mengalami demam hingga 39.5C. Suhu tubuh yang tinggi ini juga disertai dehidrasi dan lemas. Buru-buru saya berikan tempra lalu saya gendong sambil memberikan asupan ASI.

Sekitar satu jam kemudian, suhu tubuhnya berangsur normal dan wajah pucatnya kembali berseri merah. Dia tertidur pulas hingga beberapa jam berikutnya. Esok harinya, Kevin sudah bisa lari-lari dan bermain lagi dengan aktif. Fiuuhs, tenangnya bukan kepalang saat si kecil kembali ceria *senyumlebar*

 

Cerianya si kecil saat demamnya pergi 😊

 

Well, menangani anak sakit hanya sedikit pengalaman dan pelajaran berharga yang harus saya lalui sebagai seorang ibu. Masih ada banyak lagi “mata pelajaran” kehidupan membesarkan anak lengkap dengan segala tugas dan ujian yang harus saya tuntaskan. Saya sadar, saya bukanlah Supermom yang bisa melakukan segalanya. Saya memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan. Saya bahkan adalah survivor Baby Blues Syndrome, yang masih terus berjuang menjalani peran sebagai ibu dengan lebih baik setiap harinya.

Tapi di tengah segala keterbatasan itulah, saya belajar bahwa hidup tak selamanya pahit. Life is a journey, so… nikmati saja perjalanannya. Seberat apapun ujian yang harus kita lalui, sejatinya ibu tak pernah kehilangan cinta dalam hatinya. Karena cinta ibulah yang menggerakkan dunia. Setuju ya, Moms?

Punya pengalaman yang sama seperti saya atau ingin berbagi tips seputar parenting dan penanganan demam pada anak? Saya akan sangat senang kalau Mommies berkenan sharing di kolom komentar. 😊

Love,

Bety

 

The beauty of motherhood is not the freshly pressed shirt or smiling photos show the world. The beauy of motherhood is in the folds and creases in our lives, the grimaces and tantrums. The moments we have to grit our teeth to get through, when we pound on windows, we yell and scream, and demand better of each other and ourselves.”
– Robyn Passante 

***

Referensi tambahan:

•http://www.taisho.co.id/index.php/id/hidden-menutempra/89-tempra-syrup

•http://www.hellodoctor.com

•http://www.bidanku.com

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network bersama Tempra.

10 thoughts on “Aku, Anakku dan Baby Blues Syndrome

    • betykristianto says:

      Iya mba Nissa, kebetulan anak pertama saya termasuk salah satu dari sedikit bayi laki-laki dengan katup yang memisahkan saluran sperma dan dinding rahim atau perut yang belum menutup sempurna saat lahir. Pada bayi lain, katup ini harusnya sdh keras menjadi tulang rawan. Saya lupa istilah medisnya apa. Ditambah lagi ‘hobinya’ menangis, membuat ususnya menekan katup tersebut, meluncur turun dan akhirnya terjepit di antara tulang di daerah panggul. Rasa sakit membuatnya menangis, dan semakin dia menangis, semakin kuatlah tekanan di katup itu. Hiks.. sedih sekali kalau mengingatnya. 😭😭😭

      Terima kasih ya mba.. sudah berkenan mampir. Semangad!!

  1. Pingback: Cerita Kataku
  2. Walah..ternyata nggak cuma saya yaaa…bukan baby bluesnya yang parah, tapi post partum.
    Nikah, -terpaksa resign-, langsung hamil, lahiran dan bayi meninggal…Dunia jadi terbalik kayaknya huuaaa

    Tapi karena itu, jadi lebih kuaaatt! Semangat^^

Hello, thank you for stopping by. I'm Bety, the one and only author of this blog. Find your most interested story of mine and let's share!