Only by His Grace!

Begitulah yang saya rasakan di penghujung tahun 2020 ini. Tahun yang luar biasa, penuh tantangan dan pelajaran hidup yang begitu istimewa. Buat saya pribadi, tahun ini benar-benar membuat saya harus banyak berkontemplasi. Mencoba mengerti dan memahami setiap peristiwa yang terjadi tanpa banyak bertanya ‘mengapa’ dan ‘sampai kapan’. Tahun yang membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam banyak hal.

Saya bukan orang yang suka membuat resolusi tahunan. Kalaupun bikin, rasanya jarang saya menuliskan hal-hal yang muluk dan terlalu ideal. Sebagian orang mungkin melakukannya sebagai penyemangat diri. Tapi tidak demikian dengan saya. Saya cukup senang membiarkan diri saya mengalir apa adanya, nggak pakai aturan harus begini harus begitu dan mengejar ini itu terlalu ngoyo. Hal itu justru membuat saya tertekan dan enggak enjoy menjalani hidup. Dan begitulah saya melalui tahun demi tahun.

Awal tahun ini saya masih optimis bahwa tahun 2020 akan menjadi tahun yang gemilang dan menyenangkan. Saya berharap akan banyak hal cantik, secantik angka unik yang memagarinya. Dua puluh dua puluh. But reality bites! Manusia hanya bisa berharap. Tuhan yang menentukan.

Dan ya, kita akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan bahwa tahun ini seluruh dunia begitu dilanda ketakutan. Covid-19 datang tanpa permisi. Sejujurnya saya merasa covid telah mengambil terlalu banyak dari kita. Rasa aman, kasih sayang, kepedulian, nyawa, harta benda, uang, waktu, dan banyak lagi yang rasanya nggak bisa saya sebutkan semua di sini. Dia mengambil semuanya, mengobrak-abrik kehangatan keluarga, dan menggempur kepercayaan diri manusia sedemikian rupa hingga kita kehilangan sukacita. Lelah sekali rasanya di awal-awal pandemi ini terjadi.

Dalam sekejap, semua orang harus beradaptasi. Nggak hanya tentang materi, kita dipaksa beradaptasi dengan peran baru yang mau nggak mau harus dijalani. Work from home, school from home, shop from home, everything! Dan itu benar-benar nggak mudah bagi siapa saja. Including me.Tinggal di rumah sepanjang waktu, membagi waktu, tenaga, pikiran, dan banyak hal lainnya, membuat banyak orang menjadi insecure.

Di satu sisi orangtua harus mendampingi anak bersekolah dari rumah. Di sisi lain, tuntutan pekerjaan dan tugas lainnya juga nggak bisa diabaikan. Belum lagi jika ada anggota keluarga yang kebetulan sakit, entah itu terpapar corona atau penyakit yang lain. Betapa kita sibuk mengurusi ini dan itu, hingga tak jarang diri sendiri pun kurang mendapatkan perhatian.

 

Meski tahun 2020 ini cukup banyak tantangan, saya tetap bersyukur akan banyak hal. Salah satunya adalah tentang pekerjaan suami yang Tuhan izinkan tetap ada, walaupun ada penurunan di sana sini. Tapi kami masih bisa hidup, makan kenyang, tidur nyenyak.

Sebagai freelancer, saya juga sangat bersyukur masih ada pekerjaan yang bisa saya lakukan. Beberapa job mampir dan fee-nya bisa menambah isi rekening tabungan saya yang nggak seberapa itu. Oya, anak sulung saya bisa masuk sekolah negeri juga menjadi salah satu hal yang sangat kami syukuri. Paling tidak, hal itu mengurangi beban kami mencari dana untuk menyekolahkannya seandainya dia harus masuk ke sekolah swasta.

Belum cukup ‘sekolah kepribadian’ saya selesaikan, menjelang akhir tahun Tuhan kasih kejutan sekali lagi dengan kepergian ibu untuk selama-lamanya secara mendadak. Tanpa pesan, tanpa firasat, ibu berpulang begitu cepat. Meninggalkan kami dalam kesedihan yang sangat hebat. Kalau saya ceritakan mungkin nggak akan cukup waktu sehari semalam untuk menggambarkan kondisi keluarga kami kala itu.

Tapi syukur kepada Tuhan, sekali lagi, Dia tempatkan banyak orang baik untuk menghibur kami, membantu kami untuk bangkit dan kembali menjalani waktu yang Dia berikan. Kini, sudah lebih dari seratus hari ibu pergi, dan kami melanjutkan hidup yang tak pernah sama lagi.

Manusia memang hanya bisa berencana. Tuhan tetap pegang kendali. Sekuat apapun kita berusaha, menjaga diri untuk tetap sehat dan kuat, aktif dan positif, akhirnya kita hanya bisa pasrah dan menyerah pada takdir. Kalau Tuhan tetapkan A, maka jadilah A. jika Dia izinkan sesuatu terjadi ya pasti ada maksudnya.

Di penghujung tahun ini, apa yang selama ini tak pernah kami bayangkan datang. Covid-19 datang mendobrak. Mengejutkan kami dengan kehadirannya yang menyentak dan membuat kami kalut, panik, bingung, dan takut. Bagaimana tidak? Kami sekeluarga divonis positif covid-19 di saat kami semua menjalankan protokol kesehatan dengan ketat.

Tapi sekali lagi, kami hanyalah pemain yang menjalankan lakon kehidupan yang sudah dituliskan. Hingga tulisan ini saya buat, kami masih menjalani isolasi mandiri di rumah, dan menantikan hasil tes swab untuk melihat kondisi kesehatan kami berikutnya.

Sungguh, bukan sebuah hal yang mudah untuk berdamai dan menerima fakta bahwa kami terpapar corona. Sesuatu yang sangat kami hindari tapi pada akhirnya harus kami jalani. Malam-malam horor penuh ketakutan membuat mata saya enggan terpejam terlalu lama. Kecemasan, khawatir dan bayangan buruk berkelebat kian kemari. Seperti hantu yang mengikuti ke manapun saya beranjak. Hampir tiap jam kami harus mengecek kondisi masing-masing, saling mendoakan, menguatkan, dan bilang semuanya akan baik-baik saja. Bahwa semua akan segera berlalu. Dan kami akan segera saling bertemu lagi.

Ada waktu di mana saya tidak bisa berdoa dengan baik. Hanya duduk diam, bersimpuh dan membiarkan air mata saya menetes. “Tuhan, tolong.” Hanya itu yang keluar dari mulut saya. Selebihnya, hening dan sepi.

Puji syukur pada Tuhan, bapak saya dinyatakan negatif dan kami ungsikan ke tempat yang aman. Sedangkan kami masih meneruskan sisa hari karantina di rumah saja, tidak bertemu siapapun dan mencoba menghibur diri untuk menaikkan imunitas.

Secara manusia, jujur kami sempat takut. Tapi kini, kami berusaha ikhlas menjalani semua ini. Hari-hari karantina kami telah membentuk kami lebih kuat dan bersandar sepenuhnya pada Tuhan. Kalau hari ini kami masih bisa bernapas, melihat indahnya dunia dan menikmati pelangi di ujung langit, kami tahu semua itu adalah karunia dan kemurahan Tuhan. Grace. Dan di tengah semua tantangan ini, kami belajar untuk tetap optimis menatap hari-hari di depan.

Esok pagi adalah awal tahun yang baru. Selalu ada harapan di tahun yang baru, dan kami sungguh berdoa tahun 2021 adalah tahun pemulihan untuk kita semua. Kita yang sakit disembuhkan, yang kehilangan menerima penggantian berlipat ganda. Yang kekurangan, dicukupkan.

Dan teruntuk kalian yang membaca tulisan ini, doa saya semoga kalian semua dilimpahi dengan kesejahteraan, kesehatan, keberkahan, dan perlindungan yang luar biasa. Tetap optimis, tetap yakin dan percaya selalu bahwa hidup akan berubah.

Everything’s gonna be fine. Keep praying and do our best. Apapun pekerjaan kita, teruslah berkarya. Dunia tak berhenti berputar hanya karena kita berhenti melakukan sesuatu. Sebaliknya, lakukanlah sesuatu karena dunia tak akan berhenti menunggu kita.

And this too, shall pass! I believe 

 

bety kristianto