“Language is the most powerful instrument of human progress.”

– Maria Montessori –

—————-

 

“Mami, kenapa kok nangis? Mami sedih ya? Emang tadi Mami jatuh kayak aku kemarin? Sini aku sayang biar Mami nggak nangis lagi,”ucap Kevin suatu hari.

Saat itu saya lagi nangis ngguguk di kamar, karena sakit gigi yang nggak tertahankan. Sudah minum obat pereda nyeri, tapi rasa sakit nggak juga hilang. Jadilah saya nangis misek-misek sambil meluk bantal.

Waktu itu, usia Kevin sekitar 2 tahun. Jelas, dia belum bisa ngerti secara penuh apa yang orang dewasa rasakan. Yang dia tahu, kalau seseorang menangis itu tandanya ada yang sakit di tubuhnya atau mainannya rusak.

Kedua anak saya memang tergolong ceriwis. Meski laki-laki (yang konon katanya pelit kata), mereka itu jago ngobrol. Sejak usia 2 tahunan, kosakata yang mereka miliki sudah luar biasa jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Emang sih nggak langsung spekta gimana gitu. Tapi untuk ukuran balita 2 tahun yang tiba-tiba nyamperin emaknya trus bisa bilang kalimat seperti itu tuh buat saya menakjubkan.

Ada beberapa anak yang mungkin belum mampu mengucapkan kalimat-kalimat sepanjang itu. Apalagi berempati dan menunjukkan sisi emosionalnya selugas itu. Karena itu, saya bersyukur banget kedua jagoan di rumah sejak dini menunjukkan kemampuan verbal yang luar biasa. Yaa… minimal ada temen ngobrol lah di rumah wkwkwk..

Kadang, saya juga terima laporan dari eyangnya, guru-guru di sekolah atau tetangga deket rumah yang intinya bilang anak-anak saya tuh suka ngomong. Kadang kalau nggak disetop suka susah berhentinya haha. Oke, fix! Berarti kebawelan saya menurun. LoL

Well… dari banyak bacaan parenting dan pendidikan anak yang saya lahap, kedua anak saya itu memiliki kecerdasan bahasa yang cukup tinggi. Dalam teori Multiple Intelligence, Howard Gardner menyebutnya dengan kecerdasan verbal-linguistik. Artinya, anak-anak dengan kecerdasan seperti ini punya kemampuan untuk berpikir denan jelas. Selain itu, mereka juga bisa menyampaikan pemikiran itu dengan lugas dan baik melalui percakapan, tulisan dan bacaan. Dengan treatment yang tepat, anak-anak seperti ini akan tumbuh jadi orang dewasa yang cakap berdiskusi, berargumentasi, mengajar, meyakinkan orang lain, menginterpretasikan sesuatu hal, bercerita, mendongeng, dan masih banyak lagi tugas verbal-tulis lainnya. Wow!

Masalahnya adalah gimana treatment yang tepat biar talenta kecerdasan itu bisa berkembang dengan maksimal. Itulah tugas kita sebagai orangtua. Nah, kali ini yuk kita belajar bareng tentang pola pengasuhan anak dengan kecerdasan verbal-linguistik ini.

Ready?

Tips stimulasi anak dengan kecerdasan bahasa

Ciri-ciri anak cerdas bahasa

  • Mampu mengeluarkan bunyi atau suara sebagai respon terhadap percakapan dengan orang dewasa. Seringkali juga bisa mengeluarkan beragam bunyi-bunyian dari mulut meski belum ada artinya.
  • Bisa mengucapkan kata pertama di usia dini.
  • Menggunakan kosakata yang sering dipakai oleh orang dewasa.
  • Mampu mengucapkan kalimat dengan struktur yang kompleks di usia sekitar 2 tahun.
  • Berbicara seperti orang dewasa tanpa kesulitan, termasuk menguasai kata-kata sederhana yang terdiri dari beberapa suku kata.
  • Mampu menirukan suara semisal bunyi ambulans, klakson mobil, lonceng dan lain-lain.
  • Mengenali huruf (tidak harus membaca), dan simbol-simbol kata misalnya McD, Carrefour dan lain sebagainya.
  • Tertarik pada buku, koran, dan benda lain yang ada tulisannya.

Baca juga : Rahasia Mendidik Anak Laki-laki Menjadi Pribadi Super

Untuk anak yang lebih besar (5-7 tahun), kecerdasan bahasa biasanya mudah dikenali saat mereka mampu :

  • Berbicara dalam kalimat yang panjang dan kompleks.
  • Mengerti dan mengikuti perintah dan permintaan orang dewasa
  • Merangkai kata-kata untuk berkomunikasi dengan orang lain.
  • Berusaha menulis huruf, dan mulai membaca
  • Senang membaca dan dibacakan buku.

Berdasarkan pengalaman saya dengan dua jagoan di rumah, mereka memang menunjukkan kemampuan verbal yang sangat menonjol sejak kecil. Sama-sama mengucapkan kata pertama bahkan sebelum ulang tahunnya yang pertama, sama-sama “cerewet” sampai-sampai saya juluki burung beo, sama-sama suka menirukan bermacam bunyi, dan mampu mengenali huruf, angka, dan lambang-lambang yang sering dilihatnya.

Saya pernah terkaget-kaget saat si kakak yang waktu itu masih berumur sekitar 1,5 tahun berteriak antusias sambil menunjuk lambang Carrefour dengan mata berbinar-binar. Karena lafalnya belum jelas, saya dan suami tentu saja dibuatnya bingung. “Efu… efu! Mami efu!!” begitu ucapnya sambil mengguncang-guncang bahu saya.

Setelah gagal paham maksudnya, saya pun hanya mengangguk sambil bilang “Iya, iya.” Hahaha.. belakangan saya baru ngeuh yang dimaksud adalah Carrefour beberapa minggu kemudian.

Anak-anak dengan kecerdasan bahasa yang tinggi, juga peka dengan perasaan oang lain atau hal-hal yang emosional. Hm, cocok ya berarti dengan kalimat Kevin di atas, “Mami sedih ya?” Atau lain waktu dia berucap, “I am happy!” sambil mengerjap-ngerjapkan mata sipitnya. Aiihhh bikin meleleh deh.

 

Tips stimulasi anak dengan kecerdasan bahasa

Ngadepin anak-anak dengan kecerdasan bahasa seperti ini, membuat saya harus pintar menerapkan pola asuh yang tepat. Beberapa aktivitas ini bisa dipakai untuk menstimulasi anak, Moms.

  • Bicara-bicara-bicara!

Beruntung saya terlahir dengan kemampuan bicara yang cukup tinggi. Jadi, sejak masih hamil sampai anak-anak lahir, saya terbiasa mengajak mereka bicara, menyanyi, bercerita apa saja. Bahkan anak sulung saya sampai terkekeh dan menjuluki saya “mami yang aneh” karena hampir semua hal saya jadikan nyanyian dan dongeng. Misalnya saat mengajak anak mandi, berganti baju atau apapun, saya terbiasa mengajaknya dengan menyanyi. Nadanya mah bebas, suka-suka saya. Liriknya juga menyesuaikan aktivitas yang sedang kami kerjakan. Macam orgil kalau kata si kakak. Hahaha…

Kedua, saya nggak pernah mengucapkan kata-kata dengan cara yang salah, meski anak-anak asih cadel alias belum lancar ngomong. Saya selalu bilang minum, bukan mimik. Susu, alih-alih cucu. Tidur, bukannya bobok. Hal itu bertujuan supaya mereka nggak keterusan cadel dan akhirnya terlambat untuk fasih berbicara.

Ketiga, saya sering kali mengucapkan kalimat-kalimat terbuka untuk melatih kemampuan anak berpikir dan mengemukakan pendapatnya. Misalnya, “Kevin mau makan apa, nanti sore?” Atau “Lihat, kucingnya lagi ngapain ya, Dek?” saat melihat seekor kucing merunduk di pinggir jalan. Hal-hal semacam ini akan merangsang imajinasinya dan membuatnya berpikir kreatif.

Keempat, sebisa mungkin saya menahan diri untuk tidak menginterupsi mereka saat sedang bicara. Kata para pakar parenting, hal ini hanya akan mematikan kemampuan berkomunikasi pada anak. Bahkan pada beberapa kasus, anak jadi gagap dan menutup diri.

  • Mengungkapkan perasaan dan menunjukan ekspresi dengan jelas

Berhadapan dengan anak denan kecerdasan bahasa, ekspresi sangat penting. Karena hal ini bisa membantu mereka menumbuhkan rasa ingin tahunya. Mengapa mami tersenyum, mengapa mami marah, mengapa mami sedih, it matters. Anak akan terbiasa menunjukkan ekspresi yang selaras dengan perasaannya. Hal ini pasti berguna banget saat mereka dewasa kelak ya.

Baca juga ya : Manfaat Bermain Lego Bagi Anak

  • Menggambar

Anak-anak saya suka sekali menggambar. Si sulung dulu bahkan bisa menghabiskan 2-3 buku gambar sehari saat usia TK. Sekarang, dia mulai menggambar di banyak media, termasuk kanvas dan gadget. Si bontot, masih agak kurang di bidang ini. Tapi dia suka sekali mencoret-coret kertas kosong dengan tinta apapun yang ditemuinya.

  • Bermain peran

Dengan bermain peran, anak akan berlatih berkomunikasi, melakukan dialog dan berimajinasi. Hal ini membantu mereka menambah kosakata dan merangkainya menjadi kalimat yang lengkap.

Tips stimulasi anak dengan kecerdasan bahasa

  • Membacakan buku

Meski belum rutin, saya mulai membiasakan anak-anak membaca. Si Kakak dari kecil mengoleksi aneka ensiklopedia anak, komik, dan kini beralih ke buku-buku tentang IT dan komputer. Sedang si kecil gandrung sama Thomas and friends, Upin Ipin, dan buku-buku cerita lainnya. Sejak usia 3 tahunan, dia bahkan suka dengan buku-buku berbahasa Inggris. Mungkin baginya, pelafalan bahasa Inggris tuh lucu kali ya.

Well, nasib punya anak dengan kecerdasaan bahasa kayak saya ini, harus rela rumahnya berisik kayak sarang tawon. Harus pasrah saat anak-anak berebut minta didengerin, atau dibacakan cerita. Harus tersenyum saat nahan sakit gigi tapi diajak ngobrol sama si kecil. Atau saat harus mendengarkan mereka bawel di tengah antrean beli bakso. Nikmatin aja, anggap semua itu musik surgawi yang tengah didengungkan di telinga kita. Anak itu investasi. Yekan?? Ada saatnya kini kita bersusah payah ngajarin dan membentuk mereka. Kelak, saat mereka dewasa kita akan memetik buah yang luar biasa.

 

Ah jadi kasihan sama anak tetangga yang dikit-dikit diomelin hanya karena cerewet dan berisik. Padahal kan, itu modal banget ya Moms untuk ngadepin masa depan? Sekarang giliran anaknya belum lancar ngomong, mamaknya yang senewen. Ha njuk maunya piye?

Kalau Mommies punya cerita apa seputar pengasuhan? Sharing, yuk!

Tulisan ini adalah hasil kolaborasi dengan teman-teman blogger Joeragan Artikel. Minggu ini tema yang diangkat adalah Parenting. Temukan tulisan-tulisan menarik lainnya dalam blog teman sekaligus mentor saya yang terkece,  Mba Yashinta Astuti.