Namaku Nay. Nayla Sekar Gayatri.

Wajahku bulat, dibingkai sepasang alis tipis dan rambut ikal yang sering kali kuikat kuat-kuat. Aku tak suka menggerai rambut, meski Mama sering memaksa untuk memperlihatkan keindahan mahkotaku itu.
Aku memang tomboi. Kalau bukan karena Mama, tak mungkin aku membiarkan helaian tebal berwarna hitam pekat itu menyentuh bahu. Aku lebih suka memangkasnya pendek-pendek. Simpel, tak butuh waktu lama untuk merawatnya.

Tapi itu dulu, sebelum aku mengenalnya. Anak laki-laki berkulit putih bersih dengan hidung tinggi bak menara Eiffel yang kutemui di depan gerbang sekolah beberapa waktu lalu. Aku sedang mengikat tali sepatu saat malaikat itu lewat. Angin seakan menari ketika bayangnya melewatiku. Aroma tubuhnya mengingatkanku pada musim semi. Hangat dan segar. Ah…

Pertemuan singkat itu membuatku gelisah. Entah kenapa mengingatnya saja membuat pipiku memanas tanpa sebab. Leher mendadak tegang dan mataku melompat-lompat dengan liar. Rasanya ada sesuatu yang tak biasa merayapi hati ini setiap kali mengingatnya. Dan yang paling aneh, sejak hari itu aku jadi suka memperhatikan penampilan. Rambut yang biasanya hanya diikat tinggi ke atas, kali ini kusisir rapi-rapi. Kucatok sedikit biar keren. Aku mau tampil beda. Tapi untuk apa? Entahlah…

*

Dia, dia dan… DIA.

Huh! Aku kesal sekali. Sudah dua jam aku berkutat dengan buku-buku setebal bantal. Besok pagi ada duet ulangan yang mematikan. Tapi, konsentrasiku buyar entah ke mana. Segala rumus matematika dan hapalan IPS rasanya begitu memuakkan. Otakku malah penuh dengan paras tampan berbingkai senyum indah yang memabukkan itu. Gosh, I think I need a help!

Nay, stop it! Cukup sudah melamunnya. Batinku gusar. Entah angin apa yang membuat senyuman itu begitu nyata. Mungkin aku kebanyakan membaca novel. Bagaimana bisa dengan hanya sekali bertemu –ah kurasa itupun tak layak disebut pertemuan- aku bisa begini kacau?

Bagaimana kalau Mama tahu? Habis sudah aku diomelinya nanti. Mama bilang, aku tak boleh dekat-dekat cowok dulu. Tapi, aku memang tidak dekat dengan siapa-siapa, bukan? Lalu, kenapa hatiku berdesir aneh seperti ini? Ah, aku makin geram. Rasanya pipiku memanas. Aku makin senewen. Kuhempaskan tubuh ke kasur, lalu membanting kepala ke atas bantal dan membenamkan wajah dalam-dalam.

“Kamu sehat, Sayang?” Suara Mama mengejutkanku. Saking kesalnya, aku sampai tak menyadari kehadiran Mama.

“He-em,” jawabku sedatar mungkin, mencoba bersikap wajar. Kepalaku masih menempel di bantal, sementara hatiku kebat-kebit. Ah, semoga saja Mama tak curiga dengan tingkahku tadi. Aku meringis, menutupi rasa grogi.

“Ditanyain Mama kok gitu sih?”

“Gitu gimana?” potongku cepat.

Mama berdehem. “Kamu itu yang gimana, Sayang. Coba deh ngaca. Tampang kamu kusut banget tuh. Ada masalah, ya? Mau cerita?” lanjutnya sambil mengelus kepalaku.

Aku mendongak. Wajah Mama terlihat khawatir. Jawaban pendekku tadi tampaknya membuat Mama kaget. Aku memang tak biasa pelit kata, apalagi terhadap Mama. Tak usah menunggu ditanya, aku lebih sering berceloteh riang dan bercerita dari A sampai Z tentang teman-teman, guru baru, pelajaran, jajanan di kantin, pokoknya apa saja. Lalu mata indah Mama akan menari seirama nada-nada riang yang meluncur dari mulutku.

Tapi kali ini aku sedang malas.
Sebagai gantinya aku menarik bibir panjang-panjang, mencoba memasang senyum lebar dan menghindari tatapan mata Mama yang setajam elang. Aku tak mau Mama menangkap basah kegelisahanku.

“Ehm, nggak kok Ma. Nggak ada apa-apa. Nay cuma capek aja. Besok ada ulangan dua, jadi…”

“Tidur aja sana!” potong Mama.

“Tapi, Ma…”

“Sudah. Kamu bisa bangun besok subuh dan lanjutin belajarnya, daripada maksa begadang kayak gini,” lanjut Mama sambil mengambil buku-buku yang berserakan di atas kasur dan mematikan lampu kamar.
“Selamat tidur, Sayang,” bisik Mama mengecup keningku dan berlalu.

Aku tersenyum dan mengangguk. Kurasa perintah Mama ada benarnya juga. Otakku memang sedang kusut, dan tampaknya tidur bisa jadi obat yang mujarab. Semoga saja aku bisa bertemu wajah tampan itu dalam mimpi.

Mata kelabu itu kulihat lagi di kantin. Kupikir, dia pasti blasteran. Kalau tidak, dari mana dia mewarisi kulit bersih dan hidung bangir-nya? Dan, bulu-bulu di tangannya itu… Omaiii, malaikat mana yang jatuh ini?

Hatiku meletup-letup. Bakso di depanku mendadak hambar. Rasa lapar menguap begitu saja, sama seperti semua hapalan IPS yang mati-matian kumasukkan ke otakku semalam. Kepalaku kosong. Persis kayak tempolong.

Bagian berikutnya bisa ditebak. Hampir setengah jam kuhabiskan dengan melotot. Ulangan sebentar lagi selesai, dan tak satu pun soal berhasil kujawab dengan benar. Hatiku gelisah.

“Lima belas menit lagi,” suara Pak Bayu memecah sunyi. Anak-anak mendengus. Sebagian meringis. Sebagian lagi tersenyum lebar. Masih tujuh soal lagi. Buru-buru kuperas otak. Sedetik kemudian, tanganku menari. Kutulis semua yang sempat kuingat. Semoga Pak Bayu berbaik hati memberi nilai untuk kerja kerasku menulis. Aku meringis.

*

“Nay!”

Langkahku terhenti. Jantungku serasa terlepas. Ada aliran panas di wajahku, tapi tangan ini membeku. Begitu pun hatiku. Kedua kaki seakan terbang, tak lagi menjejak bumi.

“Kamu, Nayla kan?” Sebuah suara dengan logat bahasa Indonesia yang kaku melayang di udara. Aku mengangguk seperti ondel-ondel. Si wajah bule menyeringai. Mungkin tampangku seperti zombie, sampai-sampai dia harus mengibaskan tangannya beberapa kali di depan wajahku.

“I… iya,” sergahku setelah berhasil menenangkan diri.

“Boleh kita kenalan? Aku Brandon. Brandon Sasmita.” Diulurkannya lengan kokoh berbulu itu. Dadaku sesak. Hidungku melembung.

“Aku, ehm… Nay. Nayla.” Suaraku parau menahan gemuruh di dada. Kutata wajah setenang mungkin. Brandon mematung di depanku, mempertontonkan wajah ramahnya sambil memainkan alis.

“Kudengar kamu kapten cheerleaders yang paling terkenal itu?” lanjutnya santai. Aku jengah, rasanya hidung ini makin melembung. Ingin kujawab pertanyaan itu tapi lidahku kelu. Aku hanya mengangguk sambil sesekali menelan ludah. Kalau ada yang bilang rezeki durian runtuh, sepertinya aku sudah menemukannya. Dan, durian runtuh yang satu ini benar-benar memabukkan.

First Love Never Dies

Sejak siang itu, hariku berubah. Entah siapa yang mulai duluan, yang jelas hubungan kami berdua makin hari kian dekat. Di mana ada Brandon, hampir selalu ada aku. Hanya toilet saja yang memisahkan kami. Unch

Selanjutnya, kami lalui dua tahun yang indah. Kau tahu, sekolah mendadak menjadi tempat yang menyenangkan. I mean it!! Mama tak perlu lagi berteriak membangunkanku setiap pagi. Aku akan langsung melompat dan menyiapkan diri dengan cepat, berdandan sedikit, mematut diri di depan cermin dan tersenyum lebar. Ah, indahnya jatuh cinta.

Lalu, hari itu datang. Hari kelulusan yang seharusnya menggembirakan, tapi menjadi hari yang menyesakkan bagiku. Beberapa hari terakhir hatiku kosong. Ucapan Brandon terngiang di kepalaku.

“Aku akan pergi jauh,” ucapnya sebulan yang lalu, “Papa harus balik ke Jerman,” lanjutnya perlahan. Kulihat wajahnya lesu. Kami sedang duduk di sebuah kafe kecil langganan. Aku terdiam, tak tahu harus bicara apa. Kugigit pelan bibir bawah. Sakit.

Sebenarnya aku telah mempersiapkan diri menghadapi saat ini. Aku tahu Brandon tak akan selamanya di sini. Papanya memang asli Indonesia, sedangkan mamanya orang Jerman. Negara itu punya sistem pendidikan yang sangat baik. Dan itu menjadi salah satu alasan kuat mereka untuk kembali ke sana, selain tentu saja pekerjaan orang tuanya yang mengharuskan mereka pergi.

“Kita, aku… ah!” Kalimat Brandon mengambang. Aku menunduk, menyesap getaran halus yang menyakitkan dada. Aku belum pernah putus cinta, dan Brandon terlalu indah untuk dilepas. Kami duduk dalam hening yang menggigit.

Tenggorokanku kering. Kukerjapkan mata berulang kali, mengusir bening yang kian menghangat. Brandon merengkuh pundakku. Aku terisak di pelukannya. Itu adalah kali pertama aku menangis sejak mengenalnya.

*

Kuhela napas panjang. High heels-ku mengetuk-ngetuk lantai dengan kuat. Mama mengizinkanku berdandan untuk malam perpisahan sekolah. Gaun hitam berenda tipis di bagian pundak yang kupakai, terasa lembut menyentuh kulit. Di dalam ruang olahraga yang telah disulap menjadi panggung yang megah ini, teman-temanku larut dalam kegembiraan malam perpisahan. Beberapa kali kami bergerombol, mengambil foto lalu saling berpelukan.

Kulongokkan kepala tinggi-tinggi. Acara sudah hampir selesai, tapi sosok yang kucari tak kunjung tiba. Mungkinkah Brandon telah pergi? Hatiku sesak. Sejam lagi Mama akan menjemputku. Dan itu artinya…

“Aw!” Aku berteriak kecil saat tanganku ditarik menjauh dari keramaian. Hampir saja aku berteriak lebih nyaring ketika terdengar sebuah suara yang begitu kukenal.

“Sst, ini aku.” Suara Brandon. Wajahnya tampak lelah tapi tetap menawan.

“Kamu kok baru datang? Kenapa pake kaos?” tanyaku.

“Aku harus pergi besok pagi. Seharian ini aku sibuk sekali. Makanya telat, nggak sempat ganti baju,” jawabnya cepat. Kulihat wajahnya berubah. “Hei, kamu cantik sekali. Gorgeous!” lanjutnya.

Aku mengembang. Gaunku terasa sempit. Tapi belum sempat aku melayang, pikiran bahwa Brandon akan segera pergi menyentakku. Hatiku menciut.

“Oh, selamat jalan kalau gitu. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai.” Aku berusaha menutupi rasa sedih yang bergulung-gulung menyapu hatiku. Bagai ombak, perasaan itu datang dengan kejamnya.

Tiba-tiba tubuhku terayun cepat. Brandon menarikku kuat dan mengunciku dalam pelukannya yang hangat. Kurasakan detak jantungnya memburu. Aku meleleh. Air mata tumpah sudah. Tak lagi kuasa kutahan aliran deras itu. Kami berpelukan dalam diam dan gelap.

Tak ada kata yang bisa mewakili perasaan kami. Dua anak muda yang sedang dipenuhi cinta, harus terpisah tiba-tiba. Ah, rasanya seperti film saja. Ini tak adil. Batinku menjerit. Kupeluk Brandon kuat-kuat. Kami bergerak dalam irama yang sama. Kesedihan dan cinta.

Malam itu kami berciuman. Hangat dan dalam. Pertama dan terakhir. Hatiku masih nyeri sampai hari ini jika mengingatnya.

*

Paris. Bulan Desember, 15 tahun kemudian.

Jalanan penuh dengan sukacita Natal. Kota berjuluk “The City of Light” ini berdandan sangat cantik di musim dingin. Aku selalu menyukai aroma ini. Salju yang dingin, berpadu dengan hangatnya Natal selalu menjadi hiburan yang indah bagi jiwa.

Ini adalah tahun keempatku di sini. Nasib membawaku ke kota indah ini. Satu hal yang sangat kusyukuri. Kesukaanku mencorat-coret di buku belasan tahun yang lalu, mengantarkanku menjadi seorang desainer yang cukup dipandang. Itulah yang kukerjakan sekarang, bekerja di salah satu brand pakaian ternama.

Aku sangat senang menikmati keindahan Paris di malam hari, terutama menara Eiffel. Kecantikannya lebih dari cukup untuk menjadi alasan, mengapa aku sangat menyukai tempat ini. Kuhirup udara malam yang dingin, sambil merapatkan blazer abu-abu yang kukenakan. Perlahan pandanganku menyebar. Kulihat orang-orang tersenyum. Musik Natal terdengar di mana-mana. Hatiku hangat.

Mendadak, pandanganku tertumbuk pada sebuah titik. Wajahku menegang. Jantungku serasa mau pecah. Sekitar seratus meter di depan sana, berdiri sosok yang begitu kukenal. God! Am I dreaming? Bisikku dalam hati. Siluet itu mungkin samar, tapi mataku terlalu jenius untuk mengenalinya. Laki-laki itu Brandon-ku, kekasih masa mudaku. Darahku bergejolak.

Laki-laki itu menoleh. Mungkin tatapan mataku bagai magnet yang membiusnya. Matanya mendadak bersinar. Kami terpaku, saling memandang dari kejauhan. Kurasakan desakan kuat dari dalam hatiku. Kakiku melangkah pelan dan takut-takut. Tapi tidak dengan Brandon. Langkahnya lebar-lebar mendekatiku. Sejurus kemudian, laki-laki itu berlari dan menyongsongku sambil berteriak.

“Nay, is that you?” Suaranya memecah angkasa. Hatiku membuncah. Aku melangkah lebih cepat. Kami bertemu dalam deburan rindu yang bergulung-gulung. Tapi, akal sehat menahan langkahku. Bagaimana kalau Brandon telah beristri? Bisikku. Sudah sepuluh tahun lebih. Banyak hal telah berubah. Aku tercekat.

“Nay, Nayla! Oh God, it’s really you.” Brandon mengguncang tanganku dengan senyum lebarnya. Wajahnya banyak berubah, bukan lagi anak muda dengan senyum nakal seperti dulu. Garis rahangnya lebih kokoh, dengan bekas cukuran di pipi dan dagunya. Khas pria dewasa. Tapi, dia masih menawan. Sangat menawan. Dan waktu seakan berhenti, memberi jeda yang panjang bagi kami berdua.

*

Honey, tidurlah. Bayi kita perlu beristirahat,” suara suamiku lembut di telinga. Aku menoleh, menikmati hembusan napasnya di tengkuk. Kuelus lembut kepalanya yang menunduk dan bergerak ke arah perutku yang makin membuncit. Perlahan, diciumnya dengan sayang puncak perutku. Hatiku penuh dengan cinta.

“Lihat, Sayang, Mom mulai mengabaikanmu lagi ya? Beri saja tendangan yang keras, oke!” bisiknya dalam bahasa Inggris sambil terus mencium puncak perutku. Aku tertawa geli. Kuletakkan pensil dan kertas gambar di samping tempat tidur. Beberapa desain baju telah selesai. Sepertinya ini memang saatnya tidur. Kutarik tangan suamiku dengan lembut. Brandon menoleh dan mengecup keningku dalam.

Malam ini, kami tidur berpelukan. Hangat embusan napasnya bagai irama yang menentramkan. Mimpiku indah. Hari-hari kami dipenuhi cahaya. Langit berkilau dengan cantiknya. Paris memang penuh cinta. Aku tak berhenti bersyukur akan keajaiban ini. Aku tahu, waktu telah melakukan tugasnya dengan manis. Dibalutnya hati kami yang dulu hancur karena cinta. Kini, cinta pula yang menyatukan kami dalam ikatan yang abadi.

***

First Love Never Dies

Ini adalah karya fiksi kesekian yang saya tulis dalam sebuah buku kumpulan cerpen bersama teman-teman alumni Cloverline Creative yang berjudul First Love Never Dies. Buku ini terbit di awal tahun 2018 yang lalu lewat proses yang tak mudah.

Sejujurnya saya juga punya impian bisa menulis novel suatu hari nanti. Semoga kesampaian … Amin. Doakan ya teman-teman.. 😍😍

%d bloggers like this: