#MemesonaItu Breaking The Limit

Menjadi perempuan yang #MemesonaItu artinya memiliki karir yang mapan, jabatan mentereng, koleksi barang mahal dan melakukan perjalanan keluar kota untuk urusan bisnis dan wisata. Sementara itu, anak dan keluarga tetap terurus. Tentu saja dengan sedikit bantuan dari Asisten Rumah Tangga dan anggota keluarga lainnya. 


Hal itulah yang selama bertahun-tahun bersemayam dalam pikiran saya. Sebagai salah satu lulusan terbaik dari Universitas bergengsi di negeri ini, rasanya impian saya ini tak berlebihan. Saya berhak memunyai semua itu sebagai imbalan atas kerja keras dan pengorbanan saya. Sepadan alias impas. Bukankah perempuan zaman sekarang sudah bukan ditakdirkan untuk “sekadar” jaga rumah dan momong anak?

Menjalani karir pertama sebelum hari wisuda datang, adalah salah satu bukti keenceran otak saya. Dengan bangga, saya membawa kedua orang tua menghadiri seremoni megah dan tenggelam dalam euforia kelulusan menjadi sarjana. Lalu, hari-hari saya pun dipenuhi dengan deadline, tugas, dan aneka pelatihan yang membuat saya makin paham akan dunia kerja yang sebenarnya. Lelah? Jangan ditanya. Saya hanya punya waktu tak lebih dari enam jam untuk beristirahat malam. Berangkat saat mentari masih rendah di ufuk timur, dan pulang lagi ketika sinarnya tak lagi terlihat. Tapi saya senang dan bangga menjalani semuanya. Satu keyakinan saya, bahwa perjalanan panjang ini akan berujung manis sesuai harapan.

 

Namun, manusia memang hanyalah pemain. Tuhanlah sang sutradara dan pemilik cerita. Apa yang saya impikan dan harapkan, tak semuanya menjadi kenyataan. Dinamika pekerjaan dan makin kompleksnya tuntutan peran sebagai ibu sekaligus istri, membawa saya pada kenyataan untuk kembali ke rumah. Melepaskan semua jabatan dan karir yang saya bangun dari nol, lalu mengabdi pada keluarga.

Gundah, resah dan gelisah seketika melingkupi hari-hari saya. Bayangan manis tentang kehidupan ideal yang sejak lama saya impikan, harus terhempas dan pecah berantakan. Jiwa saya rapuh, tenggelam dalam kesuraman yang membuat segalanya begitu kacau. 


Perempuan memang terlahir sebagai penolong, pemelihara dan perawat keluarga. Saya sepenuhnya menyadari hal tersebut. Namun, kembali ke tengah keluarga dengan kondisi yang tercerabut dan tercabik-cabik itu, juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Jauh sebelum bisa melayani keluarga, saya harus menyembuhkan diri sendiri dulu. Terbiasa melakukan banyak hal sendiri, kini saya harus menghadapi keterbatasan di sana sini. Dan hal itu sungguh tidak mudah. Sama sekali tak gampang. Tinggal sepanjang hari di dalam rumah, membuat saya seolah terkungkung dalam sangkar emas. Dan sayap saya pun lunglai, hampir patah. Jangan tanya bagaimana rupa saya. Bahkan saya sendiri pun enggan menjawabnya. Pesona diri? Ah, lupakan saja

 

Menemukan kekuatan dalam doa

 

Manusia.

Siapakah sejatinya kita? Hanyalah butiran debu yang sekarang ada, esok mungkin tiada. Apalah artinya kita? Seonggok daging yang dipercaya memiliki hembusan napas Sang Khalik.
Itu sebabnya, kita tidak akan memunyai apa-apa jika berada jauh dari jangkauan-Nya. Tuhanlah sumber segala kekuatan dan pengharapan. Saya sadar bahwa kekuatan saya terletak pada hadirat-Nya. Dengan duduk diam di kaki-Nya, bersujud dan membiarkan tangisan mewakili segalanya, perlahan saya mulai bisa berdamai dengan hidup ini. Pelan tapi pasti, perempuan ini mulai bisa mengerti dan menerima diri sendiri. Mencoba menemukan dan mencintai kembali pesona diri yang sempat hilang.

 
Mencintai keluarga

Anak-anak, suami dan orang tua. Trilogi yang memberikan kekuatan super bagi perempuan seperti saya, untuk bisa tetap teguh dan bertahan menghadapi tantangan dan keterbatasan. Bersama merekalah saya menemukan cinta dan pengakuan. Meski terkadang, penampilan saya berantakan, mereka tetap menerima saya apa adanya. Cinta yang tulus dan tak bersyarat, membuat jiwa saya perlahan hidup kembali. Yes, family comes first. Always!

 
Mencintai diri sendiri

Banyak perempuan yang lebih mencintai orang lain ketimbang dirinya sendiri, hingga sulit menerima kekurangan dan keterbatasan yang ada. Padahal, setiap orang adalah pribadi yang unik dan istimewa. Tak seorang pun identik dengan orang lain. Dan begitulah saya mulai memahami arti self image. Citra diri. Saya belajar mencintai (lagi) gambaran diri saya. Dalam segala keterbatasan, saya percaya selalu ada jalan untuk bersinar.

Merawat diri dan berdandan. Meluangkan waktu untuk me time dan sekadar menyenangkan diri sendiri. Semua itu adalah wujud cinta saya pada diri ini. Puji Tuhan, kekuatan saya bangkit lagi. Semua perempuan itu cantik dan indah. Kita hanya butuh kacamata yang tepat untuk melihatnya.


Perluas jangkauan
Saya selalu ingat ilmu sapu lidi. Saya memang lemah saat sendiri, karena itu perempuan seperti saya harus mau memperluas jangkauan. Melebarkan sayap, dan berkomunitas dengan orang-orang yang tepat. Terkadang, kita tidak harus bertemu dengan orang-orang penting kelas kakap untuk sekedar menerima transfer energi. Acap kali, kita justru menerima energi positif dari orang-orang biasa di sekeliling kita. Tak bisa bergerak seperti saya? Berselancarlah di dunia maya. Dengan teknologi, dunia ini tak lebih luas dari daun kelor. Ada begitu banyak komunitas positif yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Itu pula yang saya lakukan. Saya menemukan suplai energi baru dalam komunitas-komunitas yang saya ikuti. Sungguh, saya sangat bersyukur akan hal ini. Meski raga kami tak sempat bertemu, tapi hati dan pikiran kami bersinkronisasi dan bergetar dalam harmoni yang indah.


Jangan lupa bahagia!

Kodrat perempuan memang menjadi penolong. Tak masalah apapun karirnya. Ibu bekerja atau ibu sepenuh waktu, keduanya sama-sama mulia. Kunci terbaik untuk menjalani setiap peran dengan sempurna adalah dengan selalu merasa bahagia. Ingatlah, bahagia itu tak selalu harus berlimpah harta, bergelimang jabatan dan penghormatan dunia. Tapi bahagia itu ada dalam hati kita, bagaimana kita mengartikan kehidupan ini dengan bijaksana dan memaknainya dengan ucapan syukur.

Perempuan boleh lemah raganya, tapi kuat hati dan jiwanya. Keterbatasan tak bisa menghalangi pesona yang terpancar dari hati yang penuh ucapan syukur. Sebab #MemesonaItu Breaking the Limit.

One thought on “#MemesonaItu Breaking The Limit

Leave a Reply